Tenun Ikat Desa Sukamaju, Saat Budaya Jadi Peluang Ekonomi
KONGBENG, KASAKKUSUK.com – Di tengah berkembangnya berbagai usaha masyarakat Desa Sukamaju, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur, kerajinan tenun ikat mulai menemukan ruang baru.
Tak hanya sebagai produk tradisional, tapi tenun dikembangkan menjadi bagian dari usaha kreatif yang menghubungkan budaya, pariwisata dan ekonomi masyarakat.
Kepala Desa Sukamaju, Muhammad Usman mengatakan, pelaku UMKM Desa Sukamaju mengembangkan tenun ikat yang memiliki kaitan dengan budaya masyarakat asal Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kerajinan tersebut, kata dia, menjadi salah satu produk yang dikembangkan untuk memperkaya jenis usaha masyarakat sekaligus mempertahankan warisan budaya.
“Pengembangan tenun tidak berhenti pada upaya mempertahankan bentuk tradisional. Masyarakat juga mendapatkan pelatihan untuk mengembangkan motif yang berkaitan dengan identitas Kutai Timur,” ucap Usman kepada KASAKKUSUR.com di kantor Pemerintah Kabupaten Kutai Timur pada Kamis, 10 September 2026.
Menurutnya, pelatihan tersebut dilakukan melalui dukungan pemerintah daerah dan instansi terkait.
Melalui proses itu, kata dia, masyarakat didorong untuk mengembangkan kreativitas tanpa meninggalkan akar budaya yang menjadi bagian dari kerajinan tersebut.
“Di tangan perajin, kain tidak sekadar menjadi benda yang memiliki nilai guna. Ada pengetahuan, keterampilan dan cerita budaya yang ikut dipertahankan dalam setiap proses pembuatannya,” tutur Usman.
Dia menyebutkan, salah satu karakter yang dipertahankan dalam pengembangan kerajinan tersebut adalah penggunaan alat tradisional, termasuk alat tenun bukan mesin.
Penggunaan alat tersebut membuat proses produksi tetap memiliki sentuhan kerajinan tangan. Pada saat yang sama, keterampilan menenun menjadi bagian dari pengetahuan yang dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bagi pemerintah desa, lanjut dia, pengembangan kerajinan memiliki dua tujuan sekaligus. Pertama, membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Kedua, menjaga budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Potensi tersebut kemudian diarahkan untuk mendukung sektor pariwisata Desa Sukamaju.
“Kita berharap produk tenun dan kerajinan ini dapat menjadi salah satu produk unggulan yang dipasarkan di kawasan Embung Wisata Banyulangi. Ketika kegiatan wisata maupun festival budaya berlangsung, kerajinan masyarakat dapat diperkenalkan langsung kepada pengunjung,” beber Usman.
Dengan cara itu, wisata tak hanya menawarkan pemandangan atau kegiatan budaya, tapi juga menghadirkan produk lokal yang dapat dibawa pulang oleh pengunjung sebagai bagian dari pengalaman mereka.
Bagi perajin, kata dia, kombinasi tersebut memberikan peluang untuk mengembangkan usaha tanpa harus meninggalkan karakter lokal produk yang mereka buat.
Desa Sukamaju memiliki masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Bagi pemerintah desa, kondisi tersebut bukan sekadar fakta sosial, melainkan potensi yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan pariwisata dan ekonomi kreatif.
Tenun ikat menjadi salah satu contoh bagaimana keragaman budaya dapat diterjemahkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Selain kerajinan, pelaku UMKM Sukamaju juga menghasilkan berbagai produk makanan, minuman, camilan dan hasil pertanian.
“Semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ekonomi kreatif, semakin besar pula peluang terbentuknya ekosistem usaha yang saling mendukung,” paparnya.
Karena itu, Pemerintah Desa terus mendorong masyarakat untuk mengembangkan keterampilan, meningkatkan kualitas produk dan memanfaatkan berbagai saluran pemasaran yang tersedia.
Pengembangan tenun dan kerajinan pada akhirnya bukan hanya tentang mengejar pendapatan tambahan bagi keluarga. Ada upaya untuk memastikan identitas budaya tetap memiliki tempat di tengah perkembangan ekonomi desa.
Ketika tenun, pariwisata dan teknologi digital dipertemukan, Sukamaju mencoba membangun jalur baru bagi produk lokalnya.
Dari alat tenun tradisional hingga pasar digital, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa warisan budaya tak harus berhenti sebagai peninggalan masa lalu.
Dengan pengembangan yang tepat, budaya dapat tetap hidup sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Karena itu, Pemerintah Desa Sukamaju menargetkan produk lokal, termasuk tenun ikat dan berbagai kerajinan, dapat memiliki pasar yang lebih luas dan menjadi bagian dari wajah ekonomi kreatif desa. (adv)
www.kasakkusuk.com
![]()


Leave a Reply