Merawat Budaya, Menggerakkan Ekonomi dari Desa Sukamaju

KONGBENG, KASAKKUSUK.com Keberagaman suku dan budaya di Desa Sukamaju, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur bukan sekadar bagian dari kehidupan sehari-hari.

Perbedaan latar belakang suku dan budaya justru menjadi modal yang terus dikembangkan untuk memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Kepala Desa Sukamaju, Muhammad Usman menjelaskan, potensi tersebut salah satunya terlihat melalui Festival Budaya Nusantara yang digelar di kawasan Embung Wisata Banyulangi.

“Kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan kekayaan budaya sekaligus memperkenalkan potensi wisata desa kepada masyarakat yang lebih luas,” kata Usman kepada KASAKKUSUK.com di kantor Pemerintah Kabupaten Kutai Timur pada Kamis, 10 September 2026.

Bagi Desa Sukamaju, menurutnya, festival bukan hanya tentang pertunjukan budaya.

Di balik berbagai kegiatan yang ditampilkan, terdapat upaya untuk menjadikan kebudayaan sebagai bagian dari pengembangan ekonomi masyarakat.

Dia menceritakan, masyarakat desanya memiliki latar belakang suku dan budaya yang beragam. Keragaman tersebut kemudian diarahkan menjadi kekuatan yang dapat memperkaya kegiatan wisata.

“Budaya menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan Sukamaju. Ketika masyarakat berkumpul dan berbagai tradisi ditampilkan, kawasan wisata ikut menjadi ruang pertemuan antara kebudayaan, masyarakat dan aktivitas ekonomi,” tutur Usman.

Di tengah kegiatan tersebut, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mendapatkan kesempatan untuk menawarkan produk mereka. Makanan, minuman, kerajinan hingga berbagai produk lokal dapat dipasarkan kepada pengunjung.

Dengan begitu, sebuah kegiatan budaya tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Festival juga membuka ruang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi secara langsung.

Bagi pelaku UMKM, lanjut dia, kehadiran pengunjung menjadi kesempatan memperkenalkan produk sekaligus membangun pasar. Sementara bagi pemerintah desa, aktivitas tersebut menjadi bagian dari strategi untuk menghubungkan potensi wisata dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Dijelaskan pula, pengembangan pariwisata Desa Sukamaju juga tidak terlepas dari keberadaan Embung Wisata Banyulangi. Kawasan embung tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat kegiatan wisata sekaligus aktivitas ekonomi desa.

“Festival Budaya Nusantara menjadi salah satu cara untuk menghidupkan kawasan tersebut. Wisatawan dan masyarakat tidak hanya datang untuk menikmati suasana, tapi juga dapat mengenal keberagaman budaya serta produk yang dihasilkan masyarakat Sukamaju,” beber Usman.

Di titik inilah, lanjut dia, pemerintah desa melihat adanya peluang untuk mengembangkan wisata secara lebih terintegrasi.

Wisata menjadi ruang untuk menarik kunjungan. Budaya menjadi daya tarik. Sementara UMKM menjadi salah satu sektor yang dapat merasakan langsung dampak dari meningkatnya aktivitas masyarakat di kawasan wisata.

Usman menyebut, keragaman budaya merupakan aset yang harus dipelihara sekaligus dikembangkan. Karena itu, keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda, menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan budaya di desa.

“Generasi muda tidak hanya diposisikan sebagai penonton. Mereka didorong untuk ikut mengambil bagian dalam berbagai kegiatan sehingga kebudayaan tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” ucap Usman.

Dikemukakan pula, pengembangan ekonomi masyarakat Sukamaju tidak hanya mengandalkan keramaian saat festival. Pemerintah desa juga mulai memperluas pemasaran produk melalui platform digital.

“Pasar online dikembangkan untuk membantu masyarakat menjual produk mereka tanpa sepenuhnya bergantung pada transaksi langsung ketika kegiatan wisata berlangsung,” tutur Usman.

Langkah tersebut menjadi penting ketika promosi wisata dan pemasaran produk masyarakat mulai berjalan beriringan.

Pengunjung yang mengenal Sukamaju melalui kegiatan budaya diharapkan tidak hanya membawa pengalaman, tetapi juga mengenal produk lokal yang dihasilkan masyarakat.

Dengan dukungan pemasaran digital, jangkauan pasar diharapkan dapat menjadi lebih luas.

Bagi Sukamaju, perpaduan antara budaya, wisata dan UMKM perlahan diarahkan menjadi satu ekosistem ekonomi desa. Festival menjadi ruang promosi, Embung Wisata Banyulangi menjadi salah satu pusat aktivitas, sementara produk masyarakat menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.

Usman juga melihat kombinasi tersebut sebagai peluang untuk membangun kekuatan ekonomi baru bagi desa.

“Ke depan, pemerintah desa akan terus mendorong pengembangan potensi tersebut agar Sukamaju semakin dikenal sebagai desa yang memiliki kekayaan budaya sekaligus destinasi wisata,” harap Usman.

Sebab, bagi Sukamaju, kata dia, menjaga budaya tak harus berhenti pada upaya mempertahankan tradisi.

Ketika budaya diberi ruang untuk tampil, dipadukan dengan potensi wisata dan didukung pemasaran produk lokal, keberagaman juga dapat menjadi jalan untuk membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Dari panggung festival hingga pasar digital, Sukamaju sedang mencoba membangun cerita sendiri: bahwa kekayaan budaya yang dirawat bersama dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus memberi manfaat nyata bagi kehidupan ekonomi masyarakat. (adv)

www.kasakkusuk.com

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: