20 RT di Kutai Timur Jadi Proyek Percontohan Pemilahan Sampah

SANGATTA, KASAKKUSUK.com – Mengubah kebiasaan membuang sampah tidak cukup hanya dengan mengingatkan masyarakat. Kebiasaan baru perlu dibangun dari lingkungan terdekat dan dilakukan berulang hingga menjadi bagian dari keseharian.

Hal tersebut menjadi salah satu fokus Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur dalam mendorong pemilahan sampah sejak dari sumber.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Kutai Timur, Jurianto menjelaskan, hingga tahun ini, sekitar 20 rukun tetangga (RT) di Kutai Timur mendapat pendampingan untuk menerapkan pengelolaan sampah yang lebih teratur.

Menurutnya, pendampingan tersebut telah berlangsung sejak 2025 dan masih dilanjutkan hingga sekarang.

“Kalau ada RT kurang lebih 20 saat ini kita dampingi,” ucap Jurianto kepada KASAKKUSUK.com di ruang kerjanya pada Selasa, 22 September 2026.

Pendampingan dilakukan bukan sekadar melalui sosialisasi. Di sejumlah lokasi, kata dia, DLH Kutai Timur juga memberikan dukungan berupa fasilitas yang dapat digunakan masyarakat untuk mengelola sampah, antara lain komposter dan sarana pemilahan.

“Program ini terutama dikembangkan sebagai proyek percontohan di wilayah Sangatta Utara dan Sangatta Selatan,” kata Jurianto.

Melalui kawasan percontohan itu, DLH Kutai Timur mencoba melihat bagaimana pemilahan sampah dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Tujuannya sederhana, yakni mendorong masyarakat memisahkan sampah sejak dari sumber sehingga sampah yang masih dapat dimanfaatkan tidak langsung bercampur dan berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Meski telah berjalan sejak 2025, Jurianto mengakui perkembangan program tersebut masih dilakukan secara bertahap.

Kata dia, menyediakan fasilitas dan memberikan edukasi merupakan bagian awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat tetap menjalankan kebiasaan memilah sampah setelah pendampingan selesai.

Perubahan perilaku menjadi pekerjaan yang tidak mudah karena pemilahan membutuhkan konsistensi dari setiap individu maupun keluarga.

“Setelah edukasi berarti bentuknya lahir karakter. Kembali ke pribadi masing-masing. Ini yang paling berat,” tutur Jurianto.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa persoalan pengelolaan sampah bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan tempat atau peralatan. Kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan sampah sejak dari rumah juga menentukan keberhasilan program.

Karena itu, DLH Kutai Timur mulai memperluas edukasi ke lingkungan sekolah. Dia berharap, anak-anak dan generasi muda menjadi salah satu sasaran agar pemahaman tentang pemilahan dan pengolahan sampah dapat dibangun sejak dini.

Selain itu, pihaknya juga melakukan edukasi pengelolaan sampah di sekolah melalui program Adiwiyata. Pendekatan tersebut diharapkan membuat siswa tak hanya mengetahui pentingnya menjaga lingkungan secara teori, tapi juga terbiasa menerapkannya.

Dari situ, lanjut dia, pemilahan dan pengolahan sampah kemudian diperkenalkan melalui kegiatan yang bersifat praktik. Dengan begitu, pengetahuan mengenai sampah diharapkan tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, tetapi berkembang menjadi kebiasaan.

Bagi DLH Kutai Timur, sekolah dapat menjadi salah satu ruang penting untuk membentuk karakter peduli lingkungan. Kebiasaan yang terbentuk sejak usia muda diharapkan dapat terbawa hingga ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

Sementara itu, kawasan RT yang telah menjadi proyek percontohan diharapkan dapat berkembang menjadi tempat belajar bagi wilayah lain.

Jurianto berharap pengalaman dari Sangatta Utara dan Sangatta Selatan nantinya bisa menjadi contoh bagi kecamatan lain yang ingin mengembangkan sistem pemilahan sampah.

Namun, perluasan program tetap harus mempertimbangkan ketersediaan sarana dan kemampuan anggaran. Keterbatasan fasilitas masih menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program.

Karena itu, penyediaan sarana pendukung akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan anggaran tersedia.

Dari sekitar 20 RT yang kini mendapatkan pendampingan, DLH Kutai Timur berharap lahir lebih banyak lingkungan yang mampu menjalankan pemilahan secara mandiri.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh program pemerintah.

“Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh warga menjadi bagian penting untuk memastikan sampah dapat dikelola sejak dari sumbernya,” kata Jurianto. (adv)

www.kasakkusuk.com

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: