JAKARTA, KASAKKUSUK.com – Kementerian Agama (Kemenag) mewajibkan seluruh peserta Seleksi Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) 2026 yang telah lolos tahap administrasi mengikuti simulasi Computer Based Test (CBT) sebelum menjalani Asesmen Kapasitas Akademik dan Psikologi (AKAP).
Kebijakan ini diterapkan sebagai langkah antisipasi untuk mengurangi potensi kendala teknis saat pelaksanaan asesmen pada 28 Juni 2026.
Simulasi diselenggarakan oleh Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) pada 26–27 Juni 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari persiapan wajib agar peserta memahami mekanisme ujian berbasis digital sekaligus memastikan perangkat yang digunakan berfungsi dengan baik.
Kepala Puspenma Kemenag, Ruchman Basori menjelaskan bahwa simulasi memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran proses seleksi.
“Simulasi ini krusial untuk memastikan seluruh peserta terbiasa dengan platform ujian sehingga dapat meminimalisir kendala teknis di lapangan saat hari pelaksanaan nanti,” kata Ruchman pada Jumat, 26 Juni 2026.
Selama simulasi, peserta diwajibkan menyiapkan laptop atau komputer, telepon pintar, serta memastikan aplikasi Ruang Ujian CBT telah terpasang dan dapat digunakan. Pelaksanaan simulasi dibagi dalam dua gelombang guna menjaga stabilitas sistem dan akses server.
Pada 26 Juni 2026, simulasi diperuntukkan bagi peserta program Beasiswa S1 Santri dan S1 Pendidikan Jarak Jauh (PJJ). Sementara pada 27 Juni 2026, simulasi diikuti peserta program Akselerasi S1 ke S2 dan S2 ke S3, Double Degree, Pesantren S2 dan S3, serta Beasiswa Unggulan Keagamaan.
Tingginya minat masyarakat terhadap BIB 2026 tercermin dari jumlah pendaftar yang mencapai 12.696 orang. Kemenag memastikan seluruh tahapan seleksi, mulai dari pendaftaran hingga verifikasi administrasi, dilaksanakan secara akuntabel untuk memperoleh calon penerima beasiswa yang memenuhi kriteria.
Sejak diluncurkan pada 2022, Program Beasiswa Indonesia Bangkit telah memberikan manfaat kepada hampir 40 ribu penerima.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, Kemenag kembali memperkuat penerapan sistem seleksi berbasis digital guna mendukung proses yang lebih efektif, objektif, dan transparan. Dia berharap sistem seleksi yang tertib dan memanfaatkan teknologi dapat menghasilkan penerima beasiswa yang memiliki kapasitas akademik sekaligus mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.
“Kami berharap melalui proses seleksi yang tertib dan berbasis teknologi ini, kita mampu menyaring kandidat yang tidak hanya unggul secara akademik, namun juga siap berkontribusi nyata bagi masyarakat,” ucap Ruchman. (mn/ute)
www.kasakkusuk.com
![]()












