TPST Belakang Pasar Induk Jadi Titik Pemilahan Sampah di Kutai Timur
SANGATTA, KASAKKUSUK.com– Di belakang aktivitas perdagangan Pasar Induk, ada pekerjaan yang berlangsung hampir tanpa jeda. Tumpukan sampah yang datang dari kawasan permukiman tidak langsung diarahkan ke tempat pemrosesan akhir (TPA), namun terlebih dahulu dipilah untuk mencari material yang masih bisa dimanfaatkan.
Keberadaan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di belakang Pasar Induk Sangatta menjadi salah satu fasilitas yang dimanfaatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Kutai Timur, Jurianto menguraikan, fasilitas tersebut digunakan untuk memaksimalkan proses pemilahan sampah sebelum residu dibuang ke TPA.
Dia menyebut sekitar 45 pekerja terlibat dalam aktivitas pengelolaan sampah di lokasi tersebut. “Di sana kurang lebih sekitar 45 orang. Mereka bekerja memilah material yang masih memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi dari sampah yang datang setiap hari,” tutur Jurianto.
Aktivitas di TPST tersebut berlangsung dalam tiga sif hingga malam hari. Sistem kerja itu salah satunya untuk menyesuaikan dengan sampah yang diangkut menggunakan kendaraan roda tiga dari kawasan permukiman.
Sampah yang tiba kemudian masuk ke proses pemilahan. Material yang masih dapat dimanfaatkan dipisahkan, sementara sampah yang tidak lagi memiliki nilai guna atau tidak dapat diolah diarahkan untuk dibuang ke TPA.
Dijelaskannya, di antara sampah yang masuk, plastik dan botol menjadi sejumlah material yang masih memiliki nilai ekonomi. Benda-benda tersebut dipisahkan agar dapat disalurkan kembali melalui rantai pemanfaatan sampah.
Sedangkan sampah organik, kata dia, diarahkan untuk pengolahan pupuk kompos. Dengan pemisahan tersebut, maka tak semua sampah harus dibuang ke TPA Batota Sangatta.
Pola ini, lanjut dia, menjadi bagian dari upaya DLH Kutai Timur mengurangi beban TPA dari sisi hulu. Semakin banyak material yang dapat dipisahkan dan dimanfaatkan, semakin sedikit pula residu yang harus dibuang.
Jurianto mengungkap kapasitas sampah yang masuk ke TPST dapat memberikan dampak terhadap pengurangan volume sampah yang menuju TPA.
“Kalau sampah di situ sebanyak 20 ton per hari, maka itu sudah luar biasa mengurangi sampah yang dibuang ke TPA,” katanya.
Pernyataannya tersebut menunjukkan peran penting fasilitas pemilahan dalam sistem pengelolaan sampah. Sampah yang sebelumnya langsung dibuang dapat terlebih dahulu diproses untuk mengambil material yang masih mempunyai manfaat.
Meski memiliki peran dalam mengurangi sampah yang masuk ke TPA, TPST di belakang Pasar Induk masih menghadapi sejumlah keterbatasan.
Jurianto mengakui ruang yang tersedia dan sarana pengolahan masih belum sepenuhnya memadai. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah di lokasi tersebut.
Padahal, kebutuhan pengelolaan sampah terus berjalan seiring dengan aktivitas masyarakat. Sampah dari permukiman maupun kawasan perdagangan tetap dihasilkan setiap hari dan membutuhkan penanganan.
Karena itu, pengembangan fasilitas pengelolaan sampah terpadu menjadi salah satu kebutuhan ke depan.
Pengembangan tidak hanya berkaitan dengan memperluas tempat pemilahan, tapi juga meningkatkan sarana pengolahan agar semakin banyak material dapat dimanfaatkan sebelum menjadi residu.
Dikemukakan pula, keberadaan sekitar 45 pekerja di TPST tersebut juga menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar persoalan fasilitas. Ada tenaga manusia yang setiap hari berada di balik proses memilah sampah, memisahkan material bernilai dan mengarahkan residu menuju TPA.
Dari belakang Pasar Induk, lanjut dia, proses itu menjadi salah satu mata rantai pengelolaan sampah Kutai Timur. Sampah yang datang tidak seluruhnya berakhir sebagai buangan.
Plastik dan botol dipisahkan, sampah organik diarahkan menjadi kompos, sementara residu dibawa ke TPA.
Langkah tersebut masih membutuhkan pengembangan fasilitas dan sarana. Namun, proses pemilahan yang berlangsung setiap hari menjadi bagian dari upaya mengurangi jumlah sampah yang harus berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) Batota Sangatta. (adv)
www.kasakkusuk.com
![]()


Leave a Reply