DLH Kutai Timur Masuk Sekolah, Edukasi Kelola Sampah Sejak Dini

SANGATTA, KASAKKUSUK.com – Kebiasaan mengelola sampah tidak selalu harus dimulai dari rumah atau lingkungan masyarakat. Di Kabupaten Kutai Timur, edukasi tentang sampah mulai dibawa masuk ke sekolah untuk menanamkan kepedulian lingkungan sejak usia dini.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur memperluas edukasi pengelolaan sampah melalui lingkungan pendidikan, salah satunya dengan terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan program Adiwiyata.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) DLH Kutai Timur, Jurianto menjelaskan, sekolah menjadi salah satu ruang penting untuk membentuk kebiasaan baru dalam memperlakukan sampah.

“Kalau berbicara edukasi ke anak-anak sekolah, saya berharap mereka sebagai generasi setelah kita lebih baik tentang pengelolaan sampah,” kata Jurianto kepada KASAKKUSUK.com di ruang kerjanya pada Selasa, 22 September 2026.

Kata dia, sejumlah sekolah di Kutai Timur telah mendapatkan edukasi dan pendampingan. Namun, pembelajaran yang diberikan tidak hanya berhenti pada penyampaian teori di dalam kelas.

Para pelajar juga diarahkan untuk melihat langsung praktik pengelolaan sampah di fasilitas pengolahan seperti Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang berada di belakang Pasar Induk Sangatta.

Menurutnya, pendekatan tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami bahwa sampah yang mereka temui setiap hari masih dapat dipilah dan diolah sebelum akhirnya menjadi residu yang dibuang.

“Melalui pengalaman langsung tersebut, siswa tak hanya mengetahui pentingnya membuang sampah pada tempatnya, tapi juga mengenal proses pemilahan dan pengolahan sampah,” ucap Jurianto.

Bagi DLH Kutai Timur, kata dia, pendidikan lingkungan menjadi bagian penting dalam upaya mengubah kebiasaan masyarakat. Sebab, persoalan sampah tidak semata-mata berkaitan dengan tersedianya tempat pembuangan maupun fasilitas pengolahan.

Perilaku masyarakat dalam membuang dan memilah sampah juga menjadi bagian yang menentukan.

Jurianto menilai edukasi yang diberikan sejak usia sekolah diharapkan dapat membentuk karakter dan kebiasaan yang terbawa hingga dewasa.

“Setelah edukasi, bentuknya adalah karakter. Kembali ke pribadi masing-masing,” katanya.

Karena itu, pelibatan sekolah tak hanya dipandang sebagai kegiatan sosialisasi. Edukasi tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses panjang membangun kesadaran lingkungan di Kutai Timur.

Anak-anak yang mendapatkan pengetahuan sekaligus melihat praktik pengelolaan sampah secara langsung diharapkan dapat membawa kebiasaan tersebut ke lingkungan keluarga dan masyarakat.

Karena itu, dia berharap generasi muda nantinya tak sekadar menjadi penerima edukasi, tapi juga ikut mengambil peran dalam perubahan sistem pengelolaan sampah.

Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah jangka panjang agar persoalan sampah tidak hanya ditangani ketika sudah menumpuk, melainkan dicegah sejak dari sumbernya melalui kebiasaan memilah dan mengelola sampah dengan lebih baik. (adv)

www.kasakkusuk.com

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: