Sinung Rubianto Hadirkan Dunia Anak dalam Pameran Cikal Purwokerto
PURWOKERTO, KASAKKUSUK.com – Pameran seni rupa bertajuk “Cikal” di Taman Literasi Kancamas, Purwokerto, menghadirkan karya lima perupa lintas generasi yang mengangkat beragam perspektif tentang kehidupan, kreativitas, dan masa depan. Pameran yang dibuka pada Jumat, 24 Juli 2026 itu masih dapat dikunjungi hingga 1 Agustus 2026.
Peresmian pameran dilakukan oleh seniman asal Yogyakarta, Lully Tutus. Dalam sambutannya, ia menilai “Cikal” bukan sekadar ruang memamerkan karya seni, tapi juga menjadi wadah dialog yang menghadirkan berbagai gagasan melalui bahasa visual.
“Sebuah kehormatan bagi saya dapat berdiri di hadapan karya-karya luar biasa yang tersaji dalam pameran bersama lima perupa,” ucap Lully Tutus.
Dia menjelaskan, tema “Cikal” merepresentasikan awal dari sebuah gagasan besar yang tumbuh dari langkah-langkah sederhana.
Melalui karya-karya tersebut, para seniman mengajak publik memahami realitas sosial, harapan, dan kegelisahan dari sudut pandang yang berbeda.
Pameran menghadirkan karya Ghufron Najib, Sinung Rubianto, Dien Yodha, Risna Utami, dan Pupung Pursita. Setiap perupa menampilkan karakter visual yang berbeda, namun tetap terhubung dalam semangat kreativitas dan refleksi.
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang pelaksanaan pameran. Pengunjung berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga mahasiswa yang memanfaatkan ruang tersebut sebagai tempat belajar sekaligus menikmati karya seni.
Yuli Wijowati, perupa asal Teluk, Purwokerto yang bertugas menyambut pengunjung, mengatakan pameran ramai dikunjungi sejak pagi.
“Anak-anak sekolah datang sejak pagi, bahkan ada yang langsung belajar melukis di atas kipas. Saat hari libur biasanya lebih ramai karena mahasiswa juga datang setelah kuliah,” tuturnya.
Selain menampilkan karya seni, pameran juga menjadi ruang diskusi mengenai perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam proses kreatif.
Salah seorang peserta pameran, Sinung Rubianto menilai, AI tidak menggantikan peran seniman, melainkan menjadi alat bantu untuk mengembangkan gagasan sebelum diwujudkan secara manual.
“AI dimanfaatkan untuk membantu ide, kemudian kami tuangkan dalam bentuk manual. Masyarakat penikmat seni akan menilai hasil manualnya, bukan hasil cetak,” ujar Sinung saat ditemui di sela pameran pada Kamis, 30 Juli 2026.
Dikemukakan pula, sentuhan tangan seniman tetap menjadi unsur utama dalam sebuah karya. Teknologi hanya dimanfaatkan sebagai media eksplorasi ide, sedangkan proses penciptaan tetap mengandalkan kemampuan artistik.
Perjalanan berkesenian Sinung dimulai sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat menempuh pendidikan di Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Semarang (Unnes), dia mulai menekuni dunia kartun, komik, dan karikatur.
Karier profesionalnya berkembang sejak 1995 melalui publikasi komik di Majalah Ceria Semarang.
Setelah lulus pada 1999, dia bergabung dengan majalah anak Ina-Ina yang dipimpin Arswendo Atmowiloto, kemudian berkontribusi di Majalah Sains Kuark Internasional, Majalah Bobo, Anak Soleh, Kompas Minggu, serta berbagai ilustrasi buku cerita anak.
Dalam pameran “Cikal”, Sinung menghadirkan karya-karya yang terinspirasi dari dunia anak.
Melalui warna-warna cerah dan karakter yang ekspresif, dia berupaya menghadirkan sudut pandang yang penuh keceriaan sekaligus mengajak pengunjung mengingat kembali imajinasi masa kecil.
Pameran seni rupa “Cikal” masih dibuka untuk umum hingga 1 Agustus 2026 di Taman Literasi Kancamas, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Purwokerto, sebagai ruang apresiasi seni sekaligus wadah interaksi antara seniman dan masyarakat. (mn/ute)
www.kasakkusuk.com
![]()


Leave a Reply