Gubernur Kaltim Temukan 20 Titik Longsor Jalur Sangatta-Perdau
SANGATTA, KASAKKUSUK.com – Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud menemukan sekitar 20 titik longsor dan potensi longsor saat meninjau sejumlah ruas jalan nasional dari Sangatta, Simpang Perdau, Bengalon, Kaliorang hingga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK) pada Senin, 2 November 2026.
Dalam peninjauan hari kedua kunjungan kerjanya ke wilayah utara Kaltim, Rudy Mas’ud melihat sejumlah badan jalan mengalami longsor dan beberapa titik lainnya berpotensi mengalami kerusakan serupa.
Karena itu, dia meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kaltim segera berkoordinasi dengan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) untuk menyampaikan kondisi tersebut agar penanganan dapat dipercepat.
Dia juga mengingatkan, kondisi jalan berpotensi semakin membahayakan apabila tidak segera ditangani, terutama ketika memasuki musim penghujan.
“Saat ini masih kemarau. Kalau masuk musim penghujan, saya yakin titik-titik longsor ini akan semakin banyak. Kemungkinan semakin rawan dan berbahaya. Tolong ini segera disampaikan ke BBPJN,” tegas Gubernur Rudy saat berada di ruas Sangatta-Simpang Perdau.
Berdasarkan laporan diterimanya, penanganan jalan nasional paket Bontang-Sangatta-Simpang Perdau telah dialokasikan melalui APBN 2026 sebesar Rp60,22 miliar.
Porsi terbesar anggaran tersebut diperuntukkan bagi penanganan ruas Bontang-Sangatta sepanjang 5,7 kilometer. Sementara sisanya dialokasikan untuk pemeliharaan rutin dan penanganan satu titik longsor di ruas Sangatta-Simpang Perdau.
Namun, jumlah titik longsor dan potensi longsor di jalur tersebut dilaporkan mencapai sedikitnya 20 lokasi. Kondisi ini menjadi perhatian gubernur agar penanganannya tidak hanya bergantung pada pekerjaan yang telah dialokasikan dalam anggaran tahun berjalan.
Pada 2027, pemerintah juga telah melaporkan rencana alokasi APBN sebesar Rp188 miliar bagi ruas Bontang-Sangatta-Simpang Perdau, termasuk untuk penanganan titik-titik longsor.
Selain memeriksa kondisi badan jalan, Rudy turut melintasi jembatan bailey di jalur Bengalon. Jembatan sementara tersebut dibangun sebagai pengganti Jembatan Lembak yang mengalami penurunan sehingga tidak dapat dilintasi.
Jembatan yang menjadi akses penting penghubung antarkawasan itu direncanakan dibangun kembali melalui skema kontrak tahun jamak atau multiyears contract (MYC) dengan total anggaran senilai Rp27 miliar.
Adapun oekerjaan tahap awal dijadwalkan dimulai pada Desember 2026 dengan alokasi anggaran sebesar Rp4 miliar.
“Kita berharap APBN lancar sehingga jembatan ini bisa segera diperbaiki kembali. Pasalnya jembatan ini sangat vital untuk menghubungkan Kaliorang, Kaubun dan Sangkulirang, hingga Talisayan di Kabupaten Berau,” pinta Rudy.
Dalam peninjauan tersebut, dia juga memberikan perhatian khusus terhadap jalur Simpang Kaliorang menuju KEK Maloy. Di sepanjang ruas jalan nasional itu, masih ditemukan sejumlah titik longsor maupun lokasi yang berpotensi mengalami longsor.
Kondisi tersebut menjadi catatan pemerintah daerah untuk segera dikoordinasikan dengan pemerintah pusat melalui BBPJN. Sebab jalur tersebut memiliki peran penting dalam mendukung konektivitas wilayah pesisir serta akses menuju kawasan ekonomi di Kutai Timur. (adp/ogy)
www kasakkusuk.com
![]()


Leave a Reply