Sosialisasikan Tiga Pilar Utama SPAB, BPBD Kutai Timur Dorong Sekolah Kenali Risiko Bencana
SANGATTA, KASAKKUSUK.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur memperkuat kesiapsiagaan warga sekolah melalui sosialisasi tiga pilar utama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sejumlah satuan pendidikan di wilayah Kutai Timur.
Kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun sekolah yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga memiliki sistem manajemen kedaruratan serta mampu memberikan pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana kepada peserta didik.
Kepala Pelaksana BPBD Kutai Timur, Sulastin menjelaskan, tiga pilar SPAB menjadi fondasi penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana.
Pilar pertama yakni Fasilitas Sekolah Aman. Materi ini menekankan pentingnya kondisi fisik sekolah yang mendukung keselamatan seluruh warga sekolah.
“Peserta dikenalkan dengan struktur bangunan yang lebih tangguh terhadap gempa, penataan ruang kelas agar tidak menghalangi akses keluar, serta pentingnya pemeliharaan sarana dan prasarana keselamatan,” ucap Sulastin kepada KASAKKUSUK.com pada Senin, 7 September 2026.
Menurutnya, penataan ruang menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian karena akses keluar harus tetap mudah digunakan ketika terjadi keadaan darurat.
“Jalur evakuasi juga perlu dipastikan tidak terhalang oleh meja, kursi, maupun barang lainnya,” ujarnya.
Selain kondisi bangunan, sekolah perlu memastikan sarana keselamatan dapat berfungsi dengan baik. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko ketika warga sekolah harus melakukan evakuasi.
Pilar kedua adalah Manajemen Bencana di Sekolah. Sulastin mengatakan, sekolah perlu memiliki sistem penanganan bencana yang jelas sehingga setiap warga sekolah mengetahui peran masing-masing ketika keadaan darurat terjadi.
“Salah satunya melalui pembentukan Tim Siaga Bencana Sekolah yang memiliki tugas dan peran ketika terjadi keadaan darurat,” kata Sulastin.
Selain membentuk tim siaga, sekolah juga perlu menyusun prosedur tetap (protap) kedaruratan dan menyiapkan kebutuhan logistik dasar.
“Dengan adanya perencanaan tersebut, respons terhadap bencana diharapkan tidak dilakukan secara spontan tanpa koordinasi,” tuturnya.
Sementara pilar ketiga adalah Pendidikan Pencegahan dan Pengurangan Risiko Bencana. Edukasi kebencanaan, kata Sulastin, tidak semestinya berhenti pada kegiatan sosialisasi, tapi dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas pendidikan di sekolah.
Materi pencegahan dan pengurangan risiko bencana dapat disisipkan melalui berbagai kegiatan, seperti OSIS, Pramuka, muatan lokal, maupun Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Dengan penerapan tiga pilar tersebut, SPAB diharapkan dapat membentuk sekolah yang memiliki kesiapan secara fisik, kelembagaan, maupun pengetahuan dalam menghadapi bencana.
“Materi diberikan agar warga sekolah memiliki pengetahuan dasar untuk mengambil tindakan yang tepat ketika menghadapi situasi darurat,” jelas Sulastin.
Selain tiga pilar SPAB, BPBD Kutai Timur juga memberikan materi Pengenalan Dasar Kebencanaan dan Deteksi Ancaman Lokal. Materi tersebut disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lingkungan masing-masing sekolah.
Peserta diperkenalkan dengan konsep dasar bencana, termasuk membedakan fenomena alam biasa dengan peristiwa yang dapat menimbulkan ancaman terhadap keselamatan dan kehidupan manusia.
Peserta juga diajak mengenali potensi risiko yang terdapat di lingkungan sekitar sekolah. Ancaman seperti gempa bumi, kebakaran, banjir, dan tanah longsor menjadi sejumlah potensi yang perlu dipahami sejak dini.
“Potensi ancaman seperti gempa bumi, kebakaran, banjir, maupun tanah longsor menjadi bagian yang perlu dikenali sejak awal,” ujar Sulastin.
Pemahaman mengenai kerentanan peserta didik juga menjadi bagian dari materi. Menurut Sulastin, warga sekolah perlu memiliki pengetahuan mitigasi yang memadai agar mampu mengambil langkah penyelamatan secara lebih mandiri ketika menghadapi situasi darurat.
Sebelumnya, BPBD Kutai Timur telah melaksanakan sosialisasi SPAB di sejumlah sekolah dengan sasaran peserta didik jenjang SD hingga SMP di wilayah Kecamatan Wahau dan Kongbeng. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi kebencanaan sekaligus membangun budaya sadar risiko di lingkungan pendidikan.
Melalui SPAB, BPBD Kutai Timur mendorong agar kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari kehidupan sekolah. Dengan fasilitas yang lebih aman, manajemen kedaruratan yang terencana, serta pendidikan mitigasi yang berkelanjutan, warga sekolah diharapkan lebih siap menghadapi berbagai potensi bencana.
Pengetahuan tersebut juga diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah. Siswa dapat membawa pemahaman mengenai kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana ke lingkungan keluarga maupun masyarakat. (adv)
www.kasakkusuk.com
![]()


Leave a Reply