Terkendala Anggaran, Pembinaan MPA dan Destana Kutai Timur Belum Merata
SANGATTA, KASAKKUSUK.com – Keterbatasan anggaran membuat pembinaan lanjutan terhadap kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Desa Tangguh Bencana (Destana) di Kabupaten Kutai Timur belum dapat dilakukan secara merata.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Timur, Sulastin mengakui masih terdapat sejumlah kelompok MPA dan Destana yang belum mendapatkan pembinaan lanjutan. Sebagian kelompok sebelumnya telah memperoleh pelatihan, namun pembinaan terhadap kelompok lainnya masih menunggu dukungan anggaran.
“Keberadaan MPA dan Destana memiliki peran penting dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat terhadap berbagai potensi bencana di wilayah masing-masing,” ucap Sulastin kepada KASAKKUSUK.com di ruang kerjanya pada Jumat, 4 September 2026.
Dia bilang, kelompok tersebut tidak hanya dibentuk untuk membantu ketika bencana terjadi. Mereka juga diharapkan mampu menjadi penggerak edukasi dan menyampaikan informasi kebencanaan kepada masyarakat di tingkat desa.
“Ini kan mereka garda terdepan, bagaimana cara mereka bisa menyampaikan sosialisasi kepada warganya sendiri. Kita harus pembinaan lagi ke mereka,” ujar Sulastin.
Dia menjelaskan, pembinaan diperlukan agar anggota MPA maupun Destana memahami penggunaan peralatan penanganan bencana sekaligus memiliki kemampuan untuk memberikan sosialisasi kepada warga.
Namun, keterbatasan anggaran BPBD Kutai Timur pada tahun berjalan membuat pelaksanaan pembinaan belum bisa menjangkau seluruh kelompok secara bersamaan. Beberapa kelompok yang belum masuk dalam alokasi anggaran direncanakan mendapat pembinaan pada 2027.
Kondisi tersebut mendorong BPBD mencari pola kerja sama dengan pihak lain agar peningkatan kapasitas masyarakat tetap berjalan. Salah satunya melalui kolaborasi dengan pemerintah desa dengan memanfaatkan skema Bantuan Keuangan Khusus Desa (Bankeususdes).
Selain pemerintah desa, BPBD juga membuka ruang kerja sama dengan perusahaan swasta yang berada di wilayah Kutai Timur.
Perusahaan perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu pihak yang dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung kegiatan pembinaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.
Menurut Sulastin, sejumlah perusahaan perkebunan sawit bahkan mulai aktif mengundang BPBD untuk memberikan sosialisasi kebencanaan. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka membangun kerja sama dengan desa-desa yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Langkah tersebut dinilai sebagai perkembangan positif karena dapat memperluas jangkauan edukasi kebencanaan tanpa sepenuhnya bergantung pada anggaran BPBD.
Kata dia, pembinaan MPA dan Destana sangat penting karena kedua kelompok tersebut berada langsung di tengah masyarakat. Dengan kapasitas yang memadai, mereka dapat membantu mengenali potensi bencana lebih awal, menyampaikan informasi kepada warga, serta mendukung penanganan awal sebelum bantuan dari pemerintah daerah tiba.
Karena itu, BPBD Kutai Timur pun mendorong pola kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat dan perusahaan agar pembinaan kesiapsiagaan bencana dapat terus diperluas.
Di tengah keterbatasan fiskal, sinergi lintas pihak menjadi salah satu upaya untuk memastikan masyarakat di berbagai wilayah Kutai Timur tetap memiliki kapasitas menghadapi risiko bencana. (adv)
www.kasakkusuk.com
![]()


Leave a Reply