BPBD Kutai Timur Perkuat Edukasi Bencana Lewat Simulasi di Sekolah

SANGATTA, KASAKKUSUK.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur memperkuat edukasi kebencanaan di lingkungan sekolah melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Program tersebut menjadi salah satu prioritas BPBD Kutai Timur pada 2026 dengan menyasar satuan pendidikan mulai jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).

Pelaksanaan SPAB dilakukan melalui sosialisasi dan simulasi kebencanaan yang melibatkan siswa, guru, serta kepala sekolah. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman praktis kepada warga sekolah agar mengetahui langkah yang harus dilakukan apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Kutai Timur, Sulastin menjelaskan, program tersebut telah dilaksanakan antara lain di SD Negeri 009 Kecamatan Muara Wahau dan SMP Negeri 1 Kecamatan Kongbeng pada Kamis, 3 September 2026.

“Kita simulasi sosialisasi, jadi kalau sampai ada kejadian apa-apa mereka sudah tahu,” kata Sulastin kepada KASAKKUSUK.com di ruang kerjanya pada Jumat, 4 September 2026.

Menurutnya, edukasi tidak hanya diberikan dalam bentuk penjelasan mengenai jenis-jenis bencana. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai cara mendeteksi potensi bencana sejak dini serta tindakan yang perlu dilakukan ketika situasi darurat terjadi.

Materi dalam kegiatan SPAB mencakup pengenalan berbagai jenis bencana, langkah penanganan awal, deteksi dini, hingga penggunaan peralatan penyelamatan yang tersedia di lingkungan sekolah.

Peserta juga diarahkan untuk mengenali kondisi lingkungan sekolah masing-masing. Salah satunya dengan mengetahui lokasi titik kumpul dan jalur evakuasi yang dapat digunakan ketika terjadi keadaan darurat.

Pemahaman mengenai jalur evakuasi dinilai penting agar warga sekolah tidak mengalami kebingungan ketika harus meninggalkan gedung atau area sekolah. Dengan mengetahui rute sejak awal, proses evakuasi diharapkan dapat dilakukan lebih tertib dan aman.

Sulastin mengatakan SPAB merupakan program yang perlu diterapkan pada seluruh jenjang pendidikan. Edukasi kebencanaan tidak hanya ditujukan bagi siswa SD dan SMP, tetapi juga dapat diberikan sejak anak berada di taman kanak-kanak (TK) hingga tingkat perguruan tinggi.

Menurut dia, pengenalan kebencanaan sejak usia dini menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan dan kesadaran menghadapi risiko bencana. Anak-anak diharapkan tidak hanya memahami materi untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat menyampaikan kembali pengetahuan tersebut kepada keluarga.

Sosialisasi bahkan telah menyasar anak-anak usia TK. BPBD menggunakan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik anak agar informasi kebencanaan lebih mudah dipahami dan diingat.

“Anak TK itu lebih percaya bundanya daripada orang tuanya. Kata bunda begini, nah itu,” ujar Sulastin.

Dikemukakan pula, pendekatan tersebut diharapkan membuat pesan kebencanaan dapat diteruskan anak kepada keluarga di rumah.

Dengan demikian, edukasi yang diberikan di sekolah tidak berhenti di lingkungan pendidikan, tetapi dapat berkembang menjadi pengetahuan bersama di tingkat keluarga.

BPBD Kutai Timur juga melihat sekolah sebagai salah satu lingkungan strategis untuk membangun budaya sadar bencana. Sebab Guru dan kepala sekolah memiliki peran penting dalam memastikan pengetahuan yang diperoleh melalui simulasi dapat diterapkan apabila terjadi keadaan darurat.

Selain memperluas program SPAB, BPBD Kutai Timur mulai menyiapkan penerapan konsep serupa di sektor kesehatan. Program tersebut diarahkan pada pembentukan Rumah Sakit Aman Bencana.

Sulastin mengatakan, program Rumah Sakit Aman Bencana nantinya berkaitan dengan kesiapan tenaga medis dan pengelola fasilitas kesehatan dalam menghadapi kondisi darurat. Salah satu aspek yang diatur adalah tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi serta mekanisme evakuasi pasien.

“Di sektor kesehatan juga sedang kita siapkan Rumah Sakit Aman Bencana, termasuk bagaimana tenaga medis bertindak dan mengevakuasi pasien saat terjadi bencana,” jelasnya.

Pengembangan program tersebut menjadi bagian dari upaya BPBD Kutai Timur memperluas edukasi dan kesiapsiagaan bencana ke berbagai sektor. Tidak hanya sekolah, fasilitas kesehatan juga perlu memiliki prosedur yang jelas agar keselamatan orang yang berada di dalamnya tetap menjadi prioritas ketika bencana terjadi.

Melalui SPAB dan persiapan Rumah Sakit Aman Bencana, BPBD Kutai Timur mendorong kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan setelah bencana terjadi. Pengetahuan, simulasi, jalur evakuasi, serta pemahaman mengenai tindakan darurat diharapkan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. (adv)

www.kasakkusuk.com

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: