SOSOK Yunus Nusi tak serta merta langsung menjadi tokoh nasional seperti sekarang ini. Dia memulai kariernya dari bawah, seperti menaiki satu per satu anak tangga.
Berikut ini kiprah Yunus Nusi berawal dari KNPI Kaltim hingga dipercaya sebagai Komisaris Independen PT Angkasa Pura Indonesia.
Sayuti Ibrahim, wartawan KASAKKUSUK.com – Sangatta
Yunus Nusi lahir di Gorontalo pada 30 Januari 1970. Dia mengawalinya dengan aktif berorganisasi semasa kuliah di Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda dengan bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Selepas menyelesaikan studinya, dia bergabung sebagai kader Pemuda Pancasila. Lalu menjadi anggota KNPI Kaltim. Kemampuannya berorganisasi dibuktikannya saat dipercaya menjadi Ketua KNPI Kaltim dua periode yakni masa bakti 2007-2010 dan 2010-2013.
Tak cuma itu, dia juga pernah jadi pengurus KONI Kaltim. Yunus juga pernah menjadi Direktur Bisnis di klub sepak bola Persisam Samarinda pada 2009 hingga 2014.
Lalu dia dipercaya ketua PSSI Kaltim. Tak butuh waktu lama, Yunus lalu melompati beberapa anak tangga ke kancah nasional dengan menjadi anggota PSSI Pusat pada 2011. Dia lalu menjadi pengurus Executive Committee (Exco) PSSI pada 2016.
Yunus bersama pengurus Exco lainnya bertugas mengatur, mengawasi, dan mengambil keputusan terkait operasional dan kebijakan sepak bola di Indonesia.
Kemudian pada 2020, dia memegang jabatan strategis dengan menjadi Sekjen PSSI hingga sekarang.
Yunus tak hanya mengurusi sepak bola Tanah Air. Sebab pada Pemilu 2019, dia maju jadi Caleg DPR dari daerah pemilihan Kaltim melalui Partai Nasdem.
Karena gagal melenggang ke Senayan, dia kembali maju jadi Caleg DPR di Pemilu 2024 di daerah pemilihan Kaltim menggunakan perahu Partai Golkar. Namun lagi-lagi keberuntungan belum berpihak padanya.
Meski begitu, nama Yunus Nusi selalu menjadi sorotan di kancah nasional karena kiprahnya di PSSI.
Bahkan dia pernah viral gara-gara menjadi sasaran kekesalan netizen setelah berembus kabar Shin Tae Young dipecat sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia. Tak cuma itu, nomor telepon pribadi Yunus Nusi kala itu sempat disebarkan oleh akun media sosial tertentu.
Bila merujuk rekam jejaknya, tak salah jika Menteri BUMN Erick Thohir mengangkat Yunus Nusi sebagai komisaris independen PT Angkasa Pura Indonesia pada 4 Juli lalu.
Adapun tugas komisaris PT Angkasa Pura sebagai bagian dari dewan komisaris yakni melakukan pengawasan umum dan khusus terhadap kegiatan perusahaan, memberikan nasihat kepada direksi, serta memastikan bahwa perusahaan dikelola secara baik dan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Tugas detailnya meliputi pelaksanaan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
Selain itu, mengawasi kinerja direksi dan sistem manajemen. Kemudian memantau efektivitas penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik.
Tak cuma itu, komisaris juga bertugas memberi saran dan pendapat kepada Direksi terkait dengan RJPP dan RKAP yang diusulkan. Kemudian memberikan saran dan masukan terkait perkembangan kegiatan perusahaan, terutama jika terjadi gejala kemunduran.
Berdasarkan website resmi PT Angkasa Pura, gaji komisaris dengan kisaran remunerasinya mulai Rp101 juta hingga Rp113 juta, termasuk honorarium dan tunjangan. (*)
![]()












