Bencana Asap Kaltim, Negara Dituntut Segera Hadir
PASER, KASAKKUSUK.com – Asap tebal akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur tak lagi sekadar menjadi jeritan warga di jalanan, tapi telah menjalar hingga ke atas mimbar masjid.
Pemerintah yang dinilai lamban dan apatis mendadak disemprot kritik pedas dalam khotbah Jumat di Masjid Besar Nurul Ijtihad, Desa Long Kali, Kabupaten Paser pada Jumat, 18 September 2026.
Ustadz Riyan Noor Hidayat yang merupakan Alumnus Al Azhar Kairo Mesir saat menyampaikan khotbah dengan lantang mengingatkan pemerintah akan kewajibannya untuk lebih peduli dalam melindungi rakyatnya.
“Saat diliputi kebahagiaan, kita harus ingat kepada Allah dengan terus menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Begitu juga ketika dalam kondisi mendapatkan musibah atau bencana, kita juga harus tetap menguatkan takwa dan yakin bahwa semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah SWT,” tegas Ustaz yang juga mengasuh di pondok pesantren Trubus Iman Padang Pangrapat Tanah Grogot ini pada Jum’at, 18 September 2026.
Dalam Islam, musibah atau bencana merupakan bagian dari ujian kehidupan. Al-Qur’an mengingatkan bahwa kita akan diuji dengan berbagai bentuk kesulitan, termasuk ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan kehilangan jiwa.
Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ١٥٥
wa lanabluwannakum bisyai-im minal-khoufi wal-juu’i wa naqshim minal-amwaali wal-angfusi was-samaroot, wa basysyirish-shoobiriin
Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155).
“Namun, perlu kita sadari, ujian dalam bencana tidak hanya berlaku bagi mereka yang sedang menjadi korban secara langsung saja. Kita yang berada di luar lokasi bencana pun sesungguhnya sedang diuji, apakah kita memiliki kepedulian atau justru memilih bersikap apatis,” paparnya.
Islam tidak mengajarkan kita untuk hanya menjadi penonton saja ketika saudara kita sedang mengalami kesulitan. Kepedulian sosial merupakan bagian dari ajaran agama.
“Penanganan bencana tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada masyarakat, relawan, organisasi sosial, lembaga keagamaan, atau donatur. Di sinilah peran pemerintah menjadi sangat penting,” ucap Noor Hidayat.
Diungkapkannya, pemerintah memiliki kewajiban untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan, pertolongan, informasi dan pelayanan yang cepat ketika bencana terjadi. Negara memiliki sumberdaya, kewenangan, perangkat kelembagaan dan kemampuan koordinasi yang tidak dimiliki oleh individu atau komunitas secara sendiri-sendiri.
“Ketika bencana terjadi, masyarakat membutuhkan respons yang cepat dan efektif. Evakuasi harus segera dilakukan terhadap warga yang berada di kawasan berbahaya. Kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, obat-obatan, tempat pengungsian dan layanan kesehatan harus tersedia. Informasi mengenai kondisi bencana juga harus disampaikan secara jelas agar masyarakat tidak menjadi korban kepanikan maupun informasi yang keliru,” jelasnya.
Kecepatan menjadi sangat penting karena dalam situasi bencana, keterlambatan dapat memperbesar dampak yang ditanggung masyarakat.
“Pemerintah tidak seharusnya hanya hadir setelah bencana terjadi. Pemerintah juga harus hadir sebelum bencana datang. Antisipasi dan mitigasi harus menjadi bagian penting dari kebijakan kebencanaan,” tuturnya.
Indonesia masuk dalam wilayah rawan bencana, perhatian pemerintah dalam mitigasi bencana menjadi hal yang penting.
Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian khusus dan selaras dengan semangat hadits Rasulullah SAW:
مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِي أُمُورَ الْمُسْلِمِينَ، ثُمَّ لَا يَجْهَدُ لَهُمْ، وَيَنْصَحُ كَنَصِيحَتِهِ لِنَفْسِهِ، إِلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمُ الْجَنَّةَ.
Artinya: “Tiada seorang pemimpin yang menangani urusan kaum muslimin, lalu ia tidak berusaha keras untuk kemaslahatan urusan yang dipimpinnya, dan tidak memberikan instruksi kebaikan kepada mereka sebagaimana kebaikan bagi dirinya sendiri serta usahanya, melainkan ia tidak akan masuk ke dalam surga bersama-sama yang dipimpinnya,” (HR Ath-Thabrani).
“Mitigasi berarti melakukan berbagai upaya untuk mengurangi risiko dan dampak bencana. Pemetaan wilayah rawan bencana, sistem peringatan dini, penataan ruang, pembangunan infrastruktur yang lebih aman, penyediaan jalur dan tempat evakuasi, edukasi kebencanaan kepada masyarakat, simulasi evakuasi, serta penguatan kapasitas aparatur dan relawan merupakan bagian dari upaya tersebut,” katanya.
“Kita sebagai masyarakat juga perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana. Keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari seberapa cepat bantuan datang setelah bencana, tetapi juga dari seberapa baik risiko dapat dikurangi sebelum bencana terjadi,” sambungnya.
Dalam menghadapi bencana, lanjut dia, semua elemen harus bahu-membahu membantu dengan kemampuan masing-masing. Bagi yang berada jauh dari lokasi bencana, keterbatasan jarak bukan alasan untuk tidak berbuat apa-apa. Doa tetap menjadi bentuk solidaritas yang memiliki kedudukan penting dalam Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ
Artinya: “Tidaklah seorang Muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, kecuali malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga seperti yang engkau doakan.’” (HR Muslim).
“Solidaritas dan kepedulian terhadap korban bencana tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar. Satu paket makanan, sebotol air, selembar pakaian, tenaga untuk membersihkan rumah warga, membantu mengangkat barang korban, menyebarkan informasi bantuan, atau sekadar mendoakan keselamatan mereka, semuanya dapat menjadi bagian dari amal kebaikan. Di sinilah pentingnya membangun budaya gotong royong ketika bencana datang,” urainya.
Bencana tak boleh membuat masyarakat yang terdampak merasa sendirian. Mereka perlu merasakan bahwa di tengah kehilangan masih ada tangan-tangan yang terulur. Di tengah kesulitan masih ada saudara yang peduli. Di tengah ketakutan masih ada orang-orang yang datang membawa harapan. Kepedulian ini juga tidak boleh berhenti ketika berita bencana tidak lagi menjadi perhatian publik.
Korban bencana sering kali menghadapi persoalan panjang setelah kamera media pergi dan bantuan darurat berkurang. Mereka harus membangun kembali rumah, memulihkan mata pencaharian, menyekolahkan anak, dan menata kembali kehidupan yang porak-poranda. Karena itu, solidaritas kemanusiaan idealnya tidak hanya hadir pada fase tanggap darurat, tetapi juga pada masa pemulihan.
“Semoga setiap tangan yang terulur menjadi amal kebajikan, setiap kebijakan yang dibuat menghadirkan keselamatan, setiap ikhtiar mitigasi mengurangi risiko bencana, dan setiap doa menjadi penguat bagi mereka yang tertimpa musibah,” papar Ustaz Riyan Noor Hidayat mengakhiri khotbahnya.(mn/ute)
www.kasakkusuk.com
![]()


Leave a Reply