Mengenang Suhari, 33 Tahun Mengabdi Laksana Relawan Samarinda
KASAKKUSUK.com – Di tengah kesibukan Kota Samarinda menghadapi berbagai musibah kebakaran selama puluhan tahun, ada sosok yang memilih hadir tanpa banyak bicara.
Namanya Suhari bin Slamet. Lelaki yang dikenal sederhana itu menghabiskan sebagian besar hidupnya membantu orang lain.
Siang hari, dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun ketika kabar kebakaran datang, pekerjaannya bisa ditinggalkan sejenak. Dia bersama para relawan bergerak menuju lokasi untuk membantu memadamkan api.
Suhari meninggal dunia pada usia 72 tahun di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda pada Minggu menjelang Magrib, 13 September 2026.
Selama tiga hari sejak Kamis malam, 10 September 2026, dia menjalani perawatan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga. Dunia kerelawanan Samarinda kehilangan salah satu sosok yang selama lebih dari tiga dekade ikut merawat semangat gotong royong dalam penanganan kebakaran.
Suhari adalah pendiri Tenaga Bantuan (Taban) Diponegoro. Kelompok relawan itu dia dirikan pada 1992, berawal dari kegelisahan melihat warga yang hanya menyaksikan ketika kebakaran terjadi.
Bagi Suhari, menjadi penonton bukan pilihan. Dia memilih bergerak. Jauh sebelum memiliki peralatan pemadam seperti sekarang, Taban mengandalkan tenaga manusia.
Para relawan turun ke lokasi kebakaran, mengangkat selang, menerobos kepulan asap, membantu proses pemadaman, kemudian kembali menggulung selang setelah api berhasil dikendalikan.
Tidak ada armada besar. Tidak ada kemewahan fasilitas. Yang ada hanya keberanian, tenaga dan kemauan untuk membantu.
Posko awal Taban berada di kawasan Jalan Diponegoro, dekat Bioskop Garuda yang kini telah berubah menjadi Hotel Bumi Senyiur.
Dari tempat tersebut, Suhari bersama para relawan membangun gerakan yang kemudian menjadi bagian dari kekuatan pendukung Barisan Pemadam Kebakaran di Samarinda.
Saat itu, aktivitas mereka berada di bawah naungan Dinas Kebakaran yang dipimpin almarhum Saman. Menariknya, Suhari tidak hidup dari organisasi tersebut. Dia justru menghidupi aktivitas kerelawanan dari hasil pekerjaannya sendiri.
“Tahun 1978 saya sudah menjadi sopir taksi (angkutan kota). Kegiatan sehari-hari sebagai pekerja bangunan, dan jika libur, berjualan pentol,” kenang Suhari dalam wawancara pada 16 Februari 2025 lalu.
Kalimat sederhana itu menggambarkan bagaimana dia menjalani kehidupan. Pekerja bangunan, sopir angkutan kota, sekaligus penjual pentol. Dari pekerjaan tersebut, Suhari memenuhi kebutuhan hidup dan ikut menopang kegiatan relawan yang dibangunnya.
Dia tidak dikenal sebagai orang yang gemar meminta sumbangan. Sebaliknya, keringatnya sendiri menjadi salah satu sumber kehidupan Taban.
Suhari merekrut anak-anak muda di sekitar Jalan Diponegoro Gang Musyawarah. Mayoritas berasal dari kalangan pelajar SMP PGRI. Mereka kemudian belajar menjadi relawan dengan cara yang sangat sederhana: turun langsung ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Tahun berganti tahun. Kebakaran demi kebakaran menjadi pengalaman yang menempa mereka.
Taban pun berkembang. Setelah 33 tahun berjalan, kelompok tersebut mulai dilengkapi peralatan pemadam dan satu unit mobil Kijang untuk mendukung mobilisasi.
Markasnya kini berada di Jalan Imam Bonjol, Gang H. Masyur, Kelurahan Pelabuhan, Kecamatan Samarinda Kota. Namun, perubahan peralatan tidak mengubah alasan Suhari membangun Taban.
Ketulusan tetap menjadi dasar. Baginya, menjadi relawan bukan tentang mencari keuntungan. Menjadi relawan adalah tentang datang ketika orang lain membutuhkan pertolongan.
Syaiful, yang dikenal dengan sapaan Raja-13 dan merupakan relawan Pokdar Kamtibmas Sungai Pinang, menjadi salah satu orang yang mengenang perjalanan Suhari.
Di matanya, Suhari bukan sekadar pendiri kelompok relawan. Dia adalah sosok yang ikut menjaga keberadaan tenaga bantuan ketika petugas pemadam membutuhkan dukungan di lapangan.
“Bang Suhari itu memang sudah lama di relawan pemadam. Beliau sungguh luar biasa menghidupkan relawan Tenaga Bantuan, yang menyediakan tenaga pada saat itu untuk membantu dinas pemadam turun ke lapangan padamkan api,” ungkap Syaiful.
Bagi para relawan yang pernah mengenalnya, nilai terbesar yang ditinggalkan Suhari bukan sekadar nama Taban.
Melainkan contoh tentang bagaimana sebuah pengabdian bisa tumbuh dari kehidupan yang sangat sederhana.
Ada ironi sekaligus keindahan dalam kisah hidup Suhari. Pada satu sisi, dia mencari nafkah dengan berjualan pentol. Pada sisi lainnya, dia menghabiskan tenaga untuk membantu orang yang sedang kehilangan rumah dan harta akibat kebakaran.
Rombong pentol menjadi bagian dari kehidupannya. Gulungan selang menjadi bagian lain dari perjalanan pengabdiannya.
Dua dunia yang tampak sederhana itu berjalan berdampingan selama puluhan tahun. Tidak ada panggung besar. Tidak ada kemewahan. Namun dari sanalah Suhari menanamkan satu hal yang jauh lebih panjang umurnya: kepedulian.
Suhari dimakamkan di Pemakaman Muslimin Padat Karya, Kelurahan Sambutan, Kota Samarinda pada Senin, 14 September 2026.
Rekan-rekan relawan mengantarkan kepergiannya. Kini, tidak ada lagi Suhari yang datang dengan tenaga dan kesederhanaannya ketika panggilan kebakaran terdengar. Namun, semangat yang dia tanamkan masih diharapkan hidup di tengah generasi relawan Samarinda.
Syaiful berharap kepergian Suhari tidak ikut memadamkan semangat kerelawanan yang selama ini diperjuangkannya.
Sebab perjalanan 33 tahun Suhari menunjukkan bahwa menjadi pahlawan kemanusiaan tidak selalu membutuhkan seragam khusus, kendaraan besar atau fasilitas lengkap.
Terkadang, pengabdian bermula dari seorang pekerja bangunan yang menyisihkan hasil keringatnya.
Dari seorang penjual pentol yang memilih membantu ketika orang lain membutuhkan. Dari seorang lelaki sederhana yang ketika melihat kebakaran tidak memilih berdiri sebagai penonton.
Suhari telah pergi. Tetapi selama masih ada relawan yang bersedia berlari menuju lokasi ketika orang lain berlari menjauh, api pengabdian yang pernah dia nyalakan belum benar-benar padam.
Selamat jalan, Suhari. Selamat jalan, pejuang kemanusiaan. (mn/ute)
www.kasakkusuk.com
![]()


Leave a Reply