Samarinda Tetapkan Darurat Kekeringan, Salat Istisqa Digelar
SAMARINDA, KASAKKUSUK.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menetapkan status darurat kekeringan selama 14 hari menyusul menurunnya ketersediaan air bersih dan memburuknya kualitas air Sungai Mahakam akibat intrusi air laut.
Di tengah kondisi tersebut, Korem 091/Aji Surya Natakesuma (ASN) bersama Pemkot Samarinda dan masyarakat menggelar Salat Istisqa di halaman Makorem 091/ASN, Jalan Gajah Mada pada Sabtu pagi, 29 Agustus 2026.
Salat Istisqa digelar sebagai bentuk ikhtiar meminta hujan di tengah kondisi kekeringan yang melanda Samarinda dan sejumlah wilayah di Kaltim.
Selain pendekatan spiritual, penanganan kondisi di lapangan juga terus dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bersih serta mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Wali Kota Samarinda, Andi Harun mengatakan, status darurat kekeringan diberlakukan selama 14 hari dan akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan.
“Kita menetapkan darurat kekeringan selama empat belas hari untuk evaluasi kondisi,” tegas Andi Harun di lokasi.
Pemkot Samarinda menetapkan kondisi tersebut setelah kekeringan berdampak terhadap pasokan air bersih masyarakat. Dari empat fase kondisi kekeringan, yakni normal, waspada, siaga dan kritis, Samarinda saat ini berada pada fase siaga.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah perubahan kualitas air Sungai Mahakam. Intrusi air laut menyebabkan peningkatan kadar klorida di sejumlah wilayah, termasuk Bantuas, yang dilaporkan mencapai lebih dari 250 ppm.
Kondisi tersebut berdampak terhadap operasional sejumlah intake air. Beberapa intake terpaksa dihentikan sementara sebagai langkah antisipasi untuk menjaga kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat.
Wilayah Palaran, Pulau Atas, Bukuan hingga Bantuas menjadi sejumlah kawasan yang terdampak kondisi tersebut.
Pemkot Samarinda juga terus memantau perubahan kadar klorida karena kondisi air yang mengalami fluktuasi. Hujan yang turun di wilayah hulu sempat memberikan sedikit pengaruh terhadap kondisi beberapa intake, namun pemantauan tetap dilakukan secara intensif.
Di sisi lain, Korem 091/ASN turut mengambil bagian dalam upaya menghadapi kondisi kekeringan dan karhutla. Selain menggelar Salat Istisqa, jajaran TNI juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam penanganan di lapangan.
Danrem 091/ASN, Brigjen TNI Anggara Sitompul mengatakan, doa bersama tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menghadapi kondisi kekeringan yang terjadi saat ini.
“Kami berharap doa bersama ini membawa hujan dan kemudahan bagi petugas,” ucap Anggara.
Dia juga menyampaikan bahwa ikhtiar menghadapi kekeringan tidak hanya dilakukan melalui kegiatan keagamaan. Penanganan secara langsung di lapangan tetap dilakukan, termasuk membantu upaya pengendalian karhutla bersama unsur terkait.
Kondisi kekeringan juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan potensi munculnya titik panas dan kebakaran lahan. Karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, petugas penanggulangan bencana dan masyarakat terus diperkuat.
Pemkot Samarinda selanjutnya akan mengevaluasi status darurat kekeringan berdasarkan perkembangan ketersediaan air, kualitas air baku serta kondisi cuaca dalam 14 hari ke depan. (mn/ute)
www.kasakkusuk.com
![]()
- #Andi Harun
- Air Bersih Samarinda
- Bantuas Samarinda
- Brigjen TNI Anggara Sitompul
- Bukuan Samarinda
- Danrem 091/ASN
- intrusi air laut Samarinda
- kadar klorida Mahakam
- Karhutla Samarinda
- KASAKKUSUK.COM
- kekeringan Kaltim
- Korem 091/Aji Surya Natakesuma
- korem 091/ASN
- krisis air bersih Samarinda
- Palaran Samarinda
- Pulau Atas Samarinda
- Salat Istisqa Samarinda
- Samarinda darurat kekeringan
- Sungai Mahakam asin
- Wali Kota Samarinda


Leave a Reply