NusantaraRagam

Puteri Indonesia 2026 Dukung PP TUNAS, Siap Kampanyekan Perlindungan Anak Digital

JAKARTA, KASAKKUSUK.com Yayasan Puteri Indonesia bersama jajaran Puteri Indonesia 2026 menyatakan dukungan terhadap implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS).

Komitmen tersebut disampaikan saat beraudiensi dengan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, di Jakarta pada Kamis, 4 Juni 2026.

Pertemuan itu membahas upaya memperkuat perlindungan anak di ruang digital melalui edukasi publik dan kampanye literasi digital yang melibatkan generasi muda. Para Puteri Indonesia 2026 menyatakan kesiapan untuk ikut menyosialisasikan pentingnya penggunaan internet yang aman bagi anak-anak dan remaja.

Audiensi dihadiri Ketua Dewan Pembina Yayasan Puteri Indonesia, Putri Kus Wisnu Wardani; Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia, Wardiman Djojonegoro; serta enam finalis Puteri Indonesia 2026.

Ikut mendampingi Menkomdigi, Dirjen Komunikasi Publik dan Media, Fifi Aleyda Yahya; Dirjen Pengawasan Ruang Digital, Alexander Sabar; dan Staf Khusus Menteri Bidang Kemitraan Global dan Edukasi Digital, Raline Shah.

Dalam pertemuan tersebut, Meutya Hafid menegaskan bahwa perlindungan anak di era digital harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan berbagai risiko yang dihadapi pengguna usia muda.

“Perlindungan anak di ruang digital harus melihat profil risiko yang dihadapi anak, mulai dari risiko kontak, risiko konten, hingga risiko kecanduan. Karena itu PP TUNAS mengatur langkah perlindungan yang proporsional sesuai tingkat risiko platform,” ucap Meutya.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Ancaman yang dihadapi anak-anak tidak hanya berasal dari paparan konten negatif, tapi juga interaksi berbahaya di internet hingga potensi ketergantungan terhadap platform digital.

Sebagai contoh, Meutya menyebut salah satu platform gim internasional telah melakukan penyesuaian kebijakan untuk pengguna di Indonesia dengan membatasi fitur komunikasi bagi pengguna berusia di bawah 16 tahun sebagai bagian dari penguatan perlindungan anak.

Dia juga menyoroti tingginya penggunaan internet di Indonesia yang telah mencapai ratusan juta pengguna dengan durasi penggunaan harian yang cukup tinggi.

Kondisi tersebut, menurutnya, harus diimbangi dengan langkah perlindungan yang lebih kuat agar ruang digital tetap aman bagi anak-anak.

“Ketika Indonesia berbicara tentang masa depan digital, maka keselamatan anak harus menjadi bagian penting dari percakapan global,” tegasnya.

Dukungan terhadap kebijakan tersebut disampaikan Puteri Indonesia 2026 Agnes Aditya Rahajeng.

Dia menilai regulasi perlindungan anak di ruang digital menjadi langkah penting untuk menjawab berbagai kekhawatiran masyarakat terhadap maraknya pelanggaran yang menyasar anak dan remaja di dunia maya.

“Meskipun harus diakui media sosial adalah sarana mencari informasi yang sangat powerful, di sinilah perlunya pengawasan dan perlindungan,” kata Agnes.

Sementara itu, Putri Kus Wisnu Wardani menilai perubahan pola interaksi anak di era digital menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan perlindungan di dunia maya. Menurutnya, anak-anak saat ini lebih banyak berinteraksi melalui gawai sehingga membutuhkan pendampingan yang lebih serius.

Komitmen konkret juga disampaikan Puteri Pendidikan 2026, Gisella Agnes Silalahi. Dia berencana mengedukasi pelajar mengenai keamanan digital sekaligus membawa isu perlindungan anak ke forum internasional saat mewakili Indonesia pada ajang Miss Charm di Vietnam.

“Saya ingin ikut menyosialisasikan PP TUNAS ke sekolah-sekolah. Selain itu, saya juga akan menggaungkan isu perlindungan anak di forum internasional untuk menjadikan ini sebagai gerakan global,” ujarnya.

Selain Agnes dan Gisella, dukungan serupa juga disampaikan Puteri Indonesia Lingkungan 2026, Victoria Titisari Koesasi Putri; Puteri Indonesia Pariwisata 2026, Karina Moudy Widodo; Puteri Indonesia Teknologi dan Inovasi 2026, Glorya Stevany Yame Nayoan; serta Puteri Indonesia Intelegensia II dan Influencer 2026. Athalla Hartiana Putri Hardian.

Keterlibatan aktif para Puteri Indonesia tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan edukasi mengenai keamanan digital sekaligus mendorong tumbuhnya kesadaran generasi muda untuk menciptakan lingkungan internet yang lebih aman dan sehat bagi anak-anak Indonesia. (mn/ute)

www.kasakkusuk.com

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

error: