DaerahRagam

Rumah Singgah Kanker Samarinda Gratis, Ringankan Beban Pasien Luar Daerah

SAMARINDA, KASAKKUSUK.com – Keberadaan Rumah Singgah Kanker Samarinda menjadi penopang penting bagi pasien kanker dari luar daerah yang harus menjalani pengobatan secara rutin di Kota Samarinda.

Karena selain gratis, fasilitas yang dikelola Yayasan Rumah Singgah Samarinda tersebut membantu menjaga kondisi fisik pasien selama menjalani terapi jangka panjang.

Rumah singgah berlokasi di Jalan Dr Soewondo Nomor 8, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu itu berada tak jauh dari RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS), sehingga memudahkan pasien dalam mengakses layanan kesehatan.

Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos Pemas) Kota Samarinda, Mochammad Arif Surochman menyampaikan apresiasinya terhadap keberadaan rumah singgah yang lahir dari gerakan sosial masyarakat tersebut.

“Sangat membantu masyarakat, khususnya pasien kanker yang harus bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani terapi. Kalau harus mobilitas terus ke daerah asal, tentu sangat mengganggu kondisi fisik pasien,” ucap Arif usai menyalurkan bantuan melalui program sedekah sampah di lokasi tersebut pada Jumat, 29 Mei 2026.

Menurut Arif, pasien kanker yang menjalani radioterapi dapat menjalani hingga 35 kali tindakan terapi secara berkala dari Senin hingga Jumat.

Karena itu, keberadaan rumah singgah dinilai mampu mengurangi beban transportasi, memangkas jarak tempuh, dan membantu pasien mempertahankan kondisi tubuh selama masa pengobatan.

Saat ini, Rumah Singgah Kanker Samarinda yang telah terdaftar sebagai Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) menampung sekitar 15 pasien beserta pendampingnya.

Fasilitas tersebut lahir dari kepedulian para relawan yang pada 2017 kerap menemukan pasien dan keluarga yang terpaksa bermalam di masjid sekitar rumah sakit akibat keterbatasan biaya.

Sekretaris Yayasan Rumah Singgah Samarinda, Aditya Lesmana mengatakan gagasan mendirikan rumah singgah muncul setelah relawan melihat langsung kondisi pasien yang kesulitan memperoleh tempat tinggal selama menjalani pengobatan.

“Awalnya karena kami sering melihat pasien-pasien di masjid sekitar rumah sakit. Dari situ muncul pemikiran bahwa harus ada rumah singgah, setidaknya untuk pasien kanker terlebih dahulu,” kata Aditya.

Hingga kini, operasional rumah singgah masih berjalan melalui dukungan komunitas, relawan, dan para donatur. Bangunan yang digunakan pun masih berstatus rumah kontrakan.

Meski beberapa kali menghadapi kendala pembiayaan sewa, pelayanan kepada pasien tetap berjalan. Penghuni rumah singgah tidak hanya berasal dari berbagai wilayah di Kaltim dan Kaltara tapi juga dari sejumlah daerah di kawasan Indonesia Timur, termasuk Kendari, Sulawesi Tenggara.

Selain menyediakan tempat tinggal dan konsumsi tanpa biaya, rumah singgah juga menghadirkan berbagai layanan pendukung, mulai dari penyediaan alat bantu kesehatan, bantuan kebutuhan pangan, layanan antar-jemput ke rumah sakit, pendampingan pasien, edukasi kesehatan, hingga dukungan psikologis bagi pasien dan keluarganya.

“Setiap akhir pekan kami menghadirkan dokter onkologi, psikolog, maupun ahli gizi untuk memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga agar mereka tetap optimistis,” ungkap Aditya.

Yayasan Rumah Singgah Samarinda juga menerapkan persyaratan yang sederhana bagi calon penghuni. Pasien cukup menunjukkan identitas diri dan kartu kepesertaan BPJS Kesehatan Kelas III untuk memperoleh layanan.

“Prinsip kami tidak boleh menolak orang. Yang penting mereka memiliki tempat berteduh, bisa tinggal, dan memperoleh makan selama menjalani pengobatan,” tegasnya.

Melalui layanan yang terus berjalan secara gotong royong, Rumah Singgah Kanker Samarinda kini menjadi tempat persinggahan sekaligus sumber dukungan bagi pasien dan keluarga yang tengah berjuang menghadapi penyakit kanker jauh dari kampung halaman. (mn/ute)

www.kasakkusuk.com

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

error: