SANGATTA, KASAKKUSUK.com – Kabar gembira bagi pedagang Pasar Induk Sangatta, Kabupaten Kutai Timur. Mulai 2026, tarif retribusi kios yang dikenakan setiap pedagang di Pasar Induk mengalami penurunan dari sebelumnya Rp600 ribu kini menjadi Rp300 ribu setiap bulannya.
Kepala UPT Pasar Induk Sangatta, Bohari menjelaskan penurunan tarif retribusi kios bagi pedagang Pasar Induk menyusul direvisinya Perda oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Timur.
Kebijakan ini, menurutnya, menjadi angin segar bagi pedagang setelah sebelumnya tarif retribusi sempat naik signifikan pada 2024 dan menuai protes.
Bohari bilang kenaikan retribusi pada 2024 mencapai hingga 100 persen dianggap memberatkan pedagang karena aktivitas pasar saat itu belum sepenuhnya ramai.
“Aspirasi pedagang kemudian disampaikan melalui surat pernyataan dan permohonan kepada pemerintah daerah. Pedagang saat itu mempertanyakan, kondisi pasar belum terlalu ramai, tapi kenaikannya sampai 100 persen,” ungkap Bohari ditemui di UPT Pasar Induk pada Selasa, 13 Januari 2026.
Menindaklanjuti keluhan itu, pihaknya menyampaikan aspirasi pedagang ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Pemkab Kutai Timur.
“Hasilnya, pada akhir 2025 dilakukan revisi Perda yang menetapkan penurunan sejumlah tarif retribusi. Salah satunya, tarif kios yang sebelumnya Rp600 ribu kini menjadi Rp300 ribu,” beber Bohari.
Dia menilai kebijakan ini mencerminkan perhatian Pemkab terhadap kondisi pedagang di Pasar Induk meski di sisi lain berdampak pada penurunan pendapatan dari sektor pungutan retribusi daerah.
Penurunan tarif tersebut, kata dia, disambut positif bagi pedagang. Menurutnya, pedagang Pasar Induk mengaku kebijakan ini sangat membantu keberlangsungan usaha mereka.
Dia menilai keringanan retribusi memberi ruang bagi pedagang untuk tetap bertahan di tengah persaingan dan kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.
Bohari juga mengungkapkan pedagang yang telah lama berjualan di Pasar Induk juga berharap adanya dukungan lain.
“Aspirasi pedagang maunya kalau ada promosi melalui platform digital dan media sosial, guna meningkatkan minat masyarakat berbelanja di pasar tradisional. Semacam marketplace di media sosial,” ucap Bohari.
Dia mengaku optimistis, dengan kombinasi kebijakan tarif yang lebih ringan dan inovasi promosi, Pasar Induk Sangatta dapat kembali ramai dan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat Kutai Timur. (ute)
![]()












