AdvertorialDiskominfo Kutai Timur

Regenerasi Petani Jadi Tantangan Sektor Pertanian Sangatta Selatan

SANGATTA, KASAKKUSUK.com – Sektor pertanian Desa Sangatta Selatan, Kecamatan Sangatta Selatan Kabupaten Kutai Timur menghadapi tantangan karena mengalami regenerasi petani.

Mayoritas petani saat ini berada di usia tua, sementara keterlibatan generasi muda dalam pertanian masih sangat minim.

Kepala Desa Sangatta Selatan, Muhajir mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi ini. Meskipun lahan pertanian sangat luas dan menjanjikan di Desa Sangatta Selatan, namun jika tidak ada regenerasi petani, maka potensi tersebut tidak akan bisa dioptimalkan di masa mendatang.

“Tantangan kita saat ini adalah regenerasi petani. Saya melihat rata-rata petani kita berada di usia senja atau usia tua. Ini menjadi tantangan bagaimana kita memberikan pemahaman kepada pemuda untuk bisa terlibat dalam sektor pertanian,” kata Kepala Desa Sangatta Selatan, Muhajirin kepada KASAKKUSUK.com di ruang kerjanya pada Rabu, 26 November 2025.

Dengan mayoritas masyarakat sekitar 50-60 persen berprofesi sebagai petani dalam arti luas, baik persawahan maupun perkebunan, sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi Sangatta Selatan. Namun tanpa regenerasi, keberlanjutan sektor ini terancam.

Karena itu, Muhajir menekankan pentingnya melibatkan pemuda dalam pertanian dengan memanfaatkan teknologi modern. Apalagi pemerintah saat ini sudah memberikan dukungan luar biasa dengan berbagai alat dan teknologi yang bisa diterapkan di bidang pertanian.

“Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mendorong keterlibatan pemuda di sektor pertanian dengan memanfaatkan teknologi. Pemerintah sekarang luar biasa mendukung dengan berbagai macam alat teknologi yang bisa diterapkan khususnya di bidang pertanian,” tutur Muhajir.

Dia mengaku sejumlah upaya sudah dilakukannya untuk menarik minat pemuda untuk terlibat dalam pengembangan di sektor pertanian.

“Dinas Pertanian dan komunitas pemuda beberapa bulan lalu melaksanakan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat tani. Berbagai program pelatihan juga terus diberikan kepada kelompok tani dan gapoktan,” beber Muhajir.

Tak cuma itu, pemerintah desa juga sudah memberikan bantuan alat mekanisasi pertanian seperti kultivator, hand tractor, dan perontok padi kepada sejumlah kelompok tani. “Ketersediaan alat modern ini diharapkan bisa menarik minat pemuda karena pekerjaan pertanian menjadi lebih ringan dan efisien saat ini,” tutur Muhajir.

Dia juga mengungkapkan ada kelompok masyarakat di desanya yang sudah menerapkan pertanian modern seperti sistem hidroponik. Namun jumlahnya masih sangat terbatas dibandingkan petani tradisional. Karena itu, menurutnya, sangat perlu digalakkan edukasi dan pemahaman tentang pertanian modern berkesinambungan.

Lahan pertanian di Sangatta Selatan, kata dia, sangat luas dan menjanjikan untuk menjadi penghasil gabah. Namun potensi ini memerlukan waktu untuk dioptimalkan, terutama terkait solusi regenerasi petani dan pembebasan kawasan dari status Taman Nasional Kutai (TNK).

“Pemerintah desa berharap ada program khusus dari pemerintah kabupaten dan provinsi yang fokus pada regenerasi petani,” ucap Muhajir.

Program ini, lanjut dia, bisa berupa pelatihan kewirausahaan pertanian untuk pemuda, bantuan modal usaha tani, hingga kemudahan akses teknologi pertanian modern yang menarik minat generasi muda. (adv/ute)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

error: