Kisah Haru Jumani, Lansia Kehilangan Tiga Jari akibat Diabetes Dipulangkan ke Bondowoso
SAMARINDA, KASAKKUSUK.com – Selama lebih dari dua dekade, seorang lansia bernama Jumani bin Tamin menjalani hidup sebagai perantau di Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.
Dia bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART), menabung dari hasil keringat sendiri dan berusaha bertahan jauh dari keluarga di kampung halaman.
Namun, awal 2026 menjadi masa berat bagi perempuan berusia 58 tahun itu. Kondisi kesehatannya terus menurun akibat diabetes. Dua bulan sebelum kepulangannya, Jumani bahkan harus menjalani operasi pemotongan tiga jari kaki kanan akibat komplikasi penyakit tersebut.
Di tengah sakit yang membatasi geraknya, persoalan biaya pengobatan turut menguras tabungan yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun.
Minimnya informasi mengenai prosedur pemanfaatan BPJS Kesehatan membuatnya kesulitan mengakses bantuan pembiayaan. Uang yang selama ini menjadi pegangan hidupnya perlahan habis.
Hidup seorang diri di rumah kontrakan di Jalan Batu Cermin, Gang SMPN 27, Kelurahan Sempaja Utara, Kota Samarinda, Jumani sempat kehilangan harapan.
Suaminya telah meninggal dunia enam tahun lalu, sementara keluarga yang mendampinginya berada jauh di Jawa Timur.
Di tengah keterbatasan itu, keinginannya hanya satu yakni pulang ke kampung halaman di Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso agar bisa kembali bertemu keluarga.
Harapan tersebut akhirnya terwujud pada Rabu, 21 Oktober 2026. Jumani diantar menuju Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda menggunakan ambulans PWI Kaltim Peduli sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jawa Timur.
Kepulangan itu bukan sekadar perjalanan lintas provinsi. Bagi Jumani, langkah tersebut menjadi kesempatan untuk meninggalkan masa sulit yang dijalaninya seorang diri dan memulai kembali kehidupan di tengah keluarga.
Kondisi Jumani diketahui Sarnawati, seorang Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kota Samarinda. Dia tak cuma membantu mendampingi Jumani menjalani kontrol medis, tapi juga berusaha menguatkan semangat perempuan tersebut di tengah kondisi kesehatannya yang menurun.
Dari pendampingan itu, Sarnawati mengetahui keinginan Jumani untuk pulang ke Bondowoso. Namun untuk mewujudkan keinginan tersebut bukan perkara mudah karena Jumani tak lagi memiliki cukup uang untuk membiayai perjalanan.
Berbagai upaya dilakukan Sarnawati untuk mencari dukungan pembiayaan, mulai dari menghubungi Dinas Sosial hingga menjajaki bantuan melalui paguyuban. Akan tetapi, usaha tersebut belum membuahkan hasil.
Titik terang muncul ketika Sarnawati menyampaikan persoalan itu dalam agenda reses anggota DPR RI daerah pemilihan Kalimantan Timur, Edi Oloan Pasaribu, di Samarinda pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Aspirasi tersebut kemudian mendapat respons. Edi Oloan menyatakan kesediaannya menanggung biaya transportasi dan akomodasi untuk pemulangan Jumani bersama pendampingnya hingga tujuan.
Tim Ahli Anggota DPR RI Komisi X Edi Oloan Pasaribu yakni Fahrizal Helmi HSB menjelaskan, proses pemulangan dapat segera direalisasikan setelah persoalan biaya mendapatkan solusi.
“Usulan masuk Sabtu, 17 Oktober 2026 dan hari Rabu ini kita sudah bisa mengantarkan Ibu Jumani ke Bandara APT Pranoto,” kata Fahrizal saat mendampingi proses keberangkatan Jumani.
Menurut Fahrizal, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap warga yang menghadapi kesulitan hidup, terlebih mereka yang tinggal seorang diri tanpa dukungan keluarga di tempat perantauan.
Bantuan biaya perjalanan menjadi bagian penting dari upaya itu. Tanpa dukungan tersebut, keinginan Jumani untuk kembali ke kampung halaman berpotensi tertunda karena keterbatasan finansial dan kondisi kesehatannya.
Di balik proses keberangkatan Jumani, terdapat sejumlah urusan yang harus diselesaikan agar perjalanan dapat berlangsung dengan aman.
Sebelum terbang, Jumani menjalani pemeriksaan medis di RSUD IA Moeis Samarinda untuk memperoleh surat keterangan laik terbang.
Kondisi kesehatannya menjadi perhatian karena dia masih membutuhkan pendampingan setelah menjalani operasi akibat komplikasi diabetes.
Ambulans PWI Kaltim Peduli membantu mengantarkan Jumani dari rumah kontrakannya menuju bandara. Proses pemulangan itu juga melibatkan Yayasan Dua Tiga Benua Etam dan sejumlah pihak lain yang mendukung kelancaran perjalanan.
Sri Mulyani dari Yayasan Dua Tiga Benua Etam mengatakan, pendampingan tak berhenti pada urusan transportasi. Relawan PSM turut membantu mengurus administrasi kependudukan untuk perpindahan dari Samarinda ke Bondowoso, serta pembaruan data kepesertaan BPJS Kesehatan Jumani.
Langkah tersebut penting agar kepindahan tempat tinggal dapat diikuti dengan penyesuaian administrasi yang diperlukan, termasuk untuk mendukung akses layanan kesehatan di daerah asal.
Bagi seseorang yang sedang sakit dan memiliki keterbatasan ekonomi, urusan administratif dapat menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pendampingan menjadi bagian dari upaya memastikan kepulangan tidak berhenti pada perjalanan fisik, tapi juga membantu mempersiapkan kebutuhan setelah tiba di kampung halaman.
Meski Jumani akhirnya dapat meninggalkan Samarinda dan kembali menuju keluarga, persoalan yang dihadapinya belum sepenuhnya selesai.
Di kampung halaman, dia masih harus menjalani pemulihan kesehatan dan menjaga kondisi diabetesnya. Kebutuhan hidup sehari-hari serta keberlanjutan pengobatan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Sri Mulyani berharap kepedulian yang telah diberikan selama proses pemulangan dapat dilanjutkan melalui dukungan yang membantu Jumani menjalani kehidupan di Bondowoso.
“Sampai saat ini kami mendampingi untuk pemulangan dan pengurusan administrasi. Harapan kita ke depan, ada pula skema bantuan ekonomi untuk keberlangsungan hidup Ibu Jumani di kampung halaman agar tidak menambah beban keluarga yang dituju,” tutur Sri Mulyani.
Harapan tersebut mengingatkan bahwa membantu warga rentan tidak cukup hanya dengan menyelesaikan persoalan mendesak. Setelah bantuan awal diberikan, tetap diperlukan perhatian terhadap kebutuhan jangka panjang, terutama bagi mereka yang menghadapi masalah kesehatan dan keterbatasan ekonomi.
Kisah Jumani juga memperlihatkan pentingnya informasi mengenai akses layanan kesehatan dan jaminan sosial. Pengetahuan tentang prosedur administrasi dan pembiayaan dapat membantu masyarakat menghindari kesulitan yang berpotensi memperberat kondisi ketika sakit.
Kini, setelah lebih dari 20 tahun merantau, Jumani kembali menuju Bondowoso dengan harapan dapat menjalani pemulihan di tengah keluarganya.
Perjalanan itu dimungkinkan berkat kepedulian Sarnawati, dukungan Edi Oloan Pasaribu, serta kerja bersama para relawan dan pihak yang membantu.
Bagi Jumani, kepulangan tersebut menjadi awal baru setelah melewati masa ketika sakit, keterbatasan biaya, dan kesendirian datang bersamaan.
Sementara bagi para pendampingnya, pekerjaan belum sepenuhnya usai yakni dengan memastikan perempuan itu memiliki dukungan yang dibutuhkan untuk melanjutkan hidup dengan lebih layak. (mn/ute)
www.kasakkusuk.com
![]()


Leave a Reply