Mulai 2027, Transportasi Publik Samarinda Disiapkan Tanpa Ngetem dan Nontunai
SAMARINDA, KASAKKUSUK.com – Sistem transportasi publik di Kota Samarinda, Kalimantan Timur disiapkan memasuki babak baru mulai 2027. Pemerintah pusat memberikan dukungan anggaran melalui APBN untuk menopang operasional angkutan umum modern berbasis jalan di ibu kota Kaltim tersebut.
Dukungan itu diberikan melalui skema buy the service (BTS) atau pembelian layanan. Skema tersebut dirancang sebagai stimulus pembiayaan selama tiga tahun pertama sebelum tanggung jawab pembiayaan operasional selanjutnya dialihkan kepada Pemerintah Kota Samarinda.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu mengungkapkan, pemerintah daerah saat ini masih menyelesaikan penyusunan nota kesepahaman atau MoU sebagai bagian dari proses administrasi untuk memperoleh dukungan anggaran pemerintah pusat.
“Kita sudah dapat lampu hijau untuk dianggaran APBN tahun 2027 di Samarinda,” ucap Manalu pada Rabu, 30 September 2026.
Dia menjelaskan, angkutan umum yang disiapkan pemerintah ini dirancang berbeda dengan pola operasional angkutan konvensional yang selama ini dikenal masyarakat.
Dia menyebut armada tak akan beroperasi dengan pola menunggu penumpang dalam waktu lama atau ngetem. Layanan akan mengutamakan kepastian jadwal, waktu tunggu atau headway, serta standar kenyamanan penumpang.
Dia bilang, setiap armada akan dilengkapi pendingin udara, kamera pengawas atau CCTV dan pengemudi yang menggunakan standar penampilan resmi.
“Angkutan umum ini bukan model konvensional lama yang menunggu penumpang,” tutur Manalu.
Pengoperasian angkutan juga akan didukung sistem digital. Melalui aplikasi pada telepon pintar, masyarakat nantinya dapat mengetahui posisi armada secara real-time, memperkirakan waktu kedatangan serta melihat kapasitas yang tersedia di dalam kendaraan.
Sistem tersebut diharapkan memberikan kepastian kepada masyarakat sejak sebelum mereka berangkat hingga tiba di tujuan.
Perubahan juga diterapkan pada sistem pembayaran. Dishub Samarinda menyiapkan mekanisme transaksi nontunai atau cashless.
Penumpang nantinya cukup melakukan tap-in pada perangkat Tap on Bus ketika masuk melalui pintu depan. Setelah perjalanan selesai, penumpang keluar melalui pintu tengah.
Konsep interior armada juga disesuaikan dengan kebutuhan angkutan perkotaan. Susunan kursi dibuat melingkar sehingga ruang tengah dapat dimanfaatkan lebih optimal untuk penumpang yang berdiri.
Pada tahap awal, kata dia, armada yang digunakan masih menggunakan bahan bakar konvensional. Aspek aksesibilitas juga menjadi bagian dari rancangan transportasi publik baru tersebut.
Pada setiap trayek yang dilayani tujuh unit armada, akan disediakan satu kendaraan yang memiliki fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas.
“Armada disabilitas tetap menggunakan model sama dengan akses khusus (ramp) bagian belakang,” jelas Manalu.
Keberadaan ramp tersebut ditujukan agar masyarakat penyandang disabilitas dapat menggunakan layanan angkutan umum dengan akses yang lebih sesuai kebutuhan.
Diceritakan pula, pada tahap awal, sistem transportasi publik tersebut direncanakan mencakup tujuh trayek utama yang akan terhubung dengan jaringan feeder atau angkutan pengumpan menuju kawasan permukiman warga.
Penentuan rute belum sepenuhnya final. Tim Kementerian Perhubungan bersama Pemerintah Kota Samarinda masih melakukan pemetaan lapangan untuk menentukan jalur yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kawasan Samarinda Seberang dan Palaran menjadi salah satu kandidat jalur prioritas karena tingginya permintaan masyarakat terhadap layanan transportasi umum.
Selain itu, lanjut dia, kawasan Teras Samarinda Tahap II juga diproyeksikan menjadi salah satu titik keberangkatan karena telah memiliki fasilitas halte atau shelter yang dapat mendukung operasional angkutan.
“Penetapan trayek akhir masih menunggu penyelesaian kajian teknis yang dilakukan tim gabungan Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Kota Samarinda,” ujarnya.
Jika seluruh tahapan administrasi dan kajian teknis selesai, dukungan APBN melalui skema BTS tersebut akan menjadi tahap awal bagi perubahan sistem transportasi publik Samarinda.
Menurut dia, targetnya bukan sekadar menghadirkan armada baru, tapi membangun layanan angkutan umum yang memiliki jadwal lebih terukur, pembayaran nontunai, dukungan teknologi, fasilitas ramah disabilitas serta jaringan layanan yang menjangkau kawasan permukiman. (mn/ute)
www.kasakkusuk.com
![]()


Leave a Reply