Dispora Kutai Timur Dorong Wirausaha dan Petani Muda, Lahan Tidur Jadi Peluang Ekonomi

SANGATTA, KASAKKUSUK.com – Di tengah luasnya lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Timur melihat peluang besar untuk melibatkan generasi muda dalam sektor pertanian.

Kepala Dispora Kutai Timur, Basuki Isnawan mengatakan, pihaknya tahun ini menempatkan kemandirian ekonomi anak muda sebagai salah satu target utama, dengan mendorong lahirnya wirausahawan sekaligus petani muda.

“Gagasan ini berangkat dari persoalan sekaligus peluang. Kutai Timur memiliki lahan tidur yang masih dapat dikembangkan, sementara generasi muda membutuhkan lebih banyak pilihan untuk membangun masa depan ekonomi secara mandiri,” ungkap Basuki Isnawan kepada KASAKKUSUK.com di ruang kerjanya pada Kamis, 3 September 2026.

Basuki menyebutkan, anak muda saat ini tak harus selalu mencari pekerjaan sebagai karyawan perusahaan atau pegawai negeri.

Menurut dia, kewirausahaan dan sektor pertanian dapat menjadi pilihan yang menjanjikan apabila dibangun dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter generasi muda.

“Saya lebih ingin anak muda itu mau berwirausaha, dan menjadi petani juga. Petani muda itu kan juga keren,” ucap Basuki.

Bagi dia, menjadi petani pada era sekarang tidak semestinya dipandang sebagai pekerjaan konvensional yang identik dengan kehidupan pedesaan semata.

“Pertanian justru dapat dikembangkan sebagai aktivitas ekonomi yang dikelola secara profesional dan melibatkan inovasi generasi muda,” ujar Basuki.

Salah satu perhatian Dispora Kutai Timur adalah keberadaan lahan tidur yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Lahan tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang usaha baru bagi generasi muda, khususnya di sektor pertanian. Namun, pemanfaatannya membutuhkan dukungan lintas organisasi perangkat daerah agar anak muda tak hanya mendapatkan dorongan, tetapi juga memiliki akses terhadap pengetahuan dan pendampingan.

Karena itu, Basuki berencana membangun komunikasi dan kolaborasi dengan Dinas Pertanian serta Dinas Tanaman Pangan Kutai Timur.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan program kepemudaan dengan kebutuhan sektor pertanian. Anak muda yang berminat menjadi petani dapat diarahkan untuk melihat pertanian sebagai peluang usaha, bukan sekadar pekerjaan.

“Sejumlah komunitas pemuda juga mulai menunjukkan ketertarikan terhadap gagasan regenerasi petani. Di antaranya Pemuda Kutim Hebat dan Komite Tani Muda,” tutur Basuki.

Kehadiran komunitas tersebut, lanjut dia, menjadi modal awal untuk memperluas gerakan petani muda di Kutai Timur.

Karena itu, dia berharap agar program pengembangan wirausaha dan petani muda tidak berhenti di pusat pemerintahan atau hanya berputar di wilayah Sangatta.

Basuki mendorong keterlibatan DPD KNPI Kutai Timur serta komunitas pemuda lainnya untuk memperluas cakupan program hingga tingkat kecamatan.

Dengan pendekatan tersebut, kata dia, peluang pengembangan ekonomi anak muda dapat disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah.

Dia menyebut kecamatan yang memiliki potensi pertanian dapat mengembangkan model usaha berbasis lahan dan komoditas yang tersedia.

Sementara wilayah lain dapat diarahkan pada bentuk kewirausahaan yang sesuai dengan potensi ekonomi setempat.

“Konsep ini membuat pembinaan pemuda tak hanya berorientasi pada kegiatan kepemudaan, tapi juga diarahkan pada kemampuan menciptakan sumber pendapatan,” ungkap Basuki.

Pengembangan wirausaha muda juga tak hanya dibebankan kepada Dispora Kutai Timur.

Kata dia, Pemerintah Kecamatan dan pelaku usaha juga harus ikut berperan dalam membina anak muda di wilayah masing-masing. Salah satu peluang dukungan yang dapat dimanfaatkan adalah skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR perusahaan yang beroperasi di setiap kecamatan.

Pendekatan tersebut, menurut Basuki, memungkinkan program pembinaan disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

“Perusahaan dapat mengambil bagian melalui pelatihan, pendampingan maupun dukungan terhadap pengembangan usaha anak muda,” jelas Basuki.

Dengan semakin banyak pihak yang terlibat, pembinaan diharapkan tidak berhenti pada pelatihan semata, tetapi berlanjut hingga peserta mampu mengembangkan usaha secara mandiri.

Adapun program pengembangan wirausaha dan petani muda yang disiapkan Dispora, kata dia, bukanlah program yang sepenuhnya baru. Dia menyebut agenda tersebut merupakan kelanjutan dari sejumlah program pembinaan yang telah berjalan sebelumnya.

Salah satunya adalah pembinaan komunitas Tangan Di Atas (TDA) bersama PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PAMA. Selain itu, Dispora juga telah menggelar pelatihan digital skill di sejumlah kecamatan.

Pengalaman dari program-program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan ekonomi bagi generasi muda Kutai Timur.

“Program pembinaan wirausaha dan petani muda ini merupakan kelanjutan dari program-program yang sudah berjalan sebelumnya, seperti pembinaan komunitas Tangan Di Atas (TDA) bersama PT KPC dan PAMA, serta pelatihan digital skill yang telah digelar di sejumlah kecamatan, dengan harapan generasi muda Kutai Timur memiliki lebih banyak pilihan jalur ekonomi mandiri ke depannya,” papar Basuki.

Pada akhirnya, target Dispora Kutai Timur pada 2026 tak hanya berbicara tentang berapa banyak anak muda yang mengikuti pelatihan. Lebih jauh, program tersebut diarahkan untuk membangun keberanian generasi muda menciptakan peluang ekonominya sendiri.

“Lahan tidur yang selama ini belum produktif diharapkan dapat berubah menjadi ruang usaha. Anak muda yang sebelumnya hanya mencari pekerjaan diharapkan mulai berani menciptakan pekerjaan,” kata Basuki.

Di tengah perkembangan ekonomi Kutai Timur, lanjut dia, regenerasi petani dan tumbuhnya wirausahawan muda menjadi bagian penting agar generasi berikutnya tidak hanya menjadi penonton pertumbuhan daerah, tetapi ikut mengambil peran di dalamnya. (adv)

www kasakkusuk.com

Loading

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: