DaerahGlobalNusantara

Didanai Kanada, Pemkot Samarinda Gandeng FINCAPES Kaji Risiko Banjir 

SAMARINDA, KASAKKUSUK.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menggandeng FINCAPES (Flores Impacts, Carbon Province, and Ecosystem Sustainability) melakukan kajian risiko banjir akibat perubahan iklim.

Kajian ini didanai Pemerintah Kanada dan ditujukan untuk memperkuat basis kebijakan penanganan banjir jangka panjang di Samarinda.

Kerja sama ini dibahas saat Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menerima audiensi FINCAPES di Balai Kota Samarinda pada Selasa siang, 21 Januari 2026.

Selama berada di Samarinda, rombongan FINCAPES diketuai Mawardi Muhammad dijadwalkan menggelar kick-off meeting pada di Hotel Mercure Samarinda pada Rabu pagi, 28 Januari 2026.

Pada pertemuan itu, Mawardi menerangkan, FINCAPES merupakan proyek kerja sama antara Pemerintah Kanada dan Pemerintah Rusia yang diluncurkan secara resmi pada forum G20 di Bali pada 2020.

Untuk Kota Samarinda, kata dia, fokus utama proyek yakni kajian risiko banjir akibat perubahan iklim dengan melibatkan peneliti dari Universitas Syiah Kuala, Provinsi Aceh.

Kajian tersebut, menurutnya, akan memuat berbagai skenario perubahan iklim, termasuk proyeksi kenaikan suhu global hingga dua derajat Celsius serta estimasi risiko banjir dalam jangka waktu 10, 25, 50, hingga 100 tahun ke depan. Seluruh pendanaan kajian dipastikan berasal dari Pemerintah Kanada.

“Setelah kajian pertama yang direncanakan berlangsung selama sembilan sampai sepuluh bulan, akan dilanjutkan kajian kedua yang berfokus pada risiko kerugian dan kerusakan akibat banjir, termasuk opsi intervensi untuk mengurangi dampaknya,” papar Mawardi.

Dia berharap hasil kajian dapat memberikan manfaat nyata bagi Pemkot Samarinda dan para pemangku kepentingan.

Seluruh hasil kajian, baik berupa data maupun rekomendasi, akan diserahkan kepada pemerintah daerah untuk disimpan sebagai basis data resmi.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri menyampaikan apresiasi atas dukungan FINCAPES dalam membantu Pemkot Samarinda mengurai persoalan banjir melalui pendekatan ilmiah.

Dia berharap agar kerja sama ini dapat berkelanjutan dan menghasilkan rekomendasi yang aplikatif, terutama di tengah kebijakan efisiensi anggaran daerah.

Dia bilang, penelitian yang dilakukan di luar musim hujan tetap dapat berjalan meskipun tantangan analisisnya lebih besar.

Dia mencontohkan kondisi Samarinda dalam periode tanpa hujan sudah mengalami suhu ekstrem hingga menyebabkan tanah retak.

Karena itu, dia mendorong agar kajian dilakukan secara lebih konkret dan terukur, termasuk perhitungan rata-rata curah hujan harian dengan indikator ilmiah yang jelas.

“Kami berharap keterlibatan tenaga ahli dan praktisi lokal yang memiliki pengalaman lapangan di daerah dapat diakomodasi,” pintanya.

“Data, kajian, dan pengalaman di daerah sebenarnya sudah ada. Tinggal bagaimana semuanya disinergikan agar benar-benar bermanfaat bagi kebijakan penanganan banjir ke depan,” imbuh Saefuddin Zuhri. (*/ute)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

error: