SANGATTA, KASAKKUSUK.com – Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Kutai Timur menekankan pentingnya pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga kepada para pelaku UMKM dalam berbagai pelatihan yang digelar.
Langkah ini dinilai krusial untuk mengukur perkembangan usaha secara akurat, sekaligus mendorong peningkatan omzet dan modal pelaku usaha.
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kutai Timur, Teguh Budi Santoso mengungkapkan masih banyak pelaku UMKM yang mencampur uang produksi dengan kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut, kata dia, membuat pelaku usaha kesulitan menilai apakah usahanya berkembang atau justru stagnan.
“Uang produksi mereka dengan uang makan sehari-hari bisa tercampur. Kami tekankan dalam pelatihan manajemen keuangan, tolong dipisahkan ini Bu. Mana uang produksi, mana uang keluarga,” ucap Teguh.
Dia bilang, sekitar 90 persen pelaku UMKM di Kutai Timur merupakan ibu-ibu rumah tangga. Kebiasaan mencampur keuangan usaha dan rumah tangga kerap membuat perhitungan omzet dan modal menjadi tak jelas.
Dengan pemisahan keuangan yang tertib, menurutnya, pelaku UMKM dapat melihat secara pasti kenaikan omzet dan perkembangan modal usaha.
Bahkan pemisahan ini, lanjut dia, akan membuka kesadaran untuk memberikan upah yang layak kepada anggota keluarga yang ikut membantu usaha.
“Bisa-bisa nanti anak atau suami yang dipekerjakan dibayar, jangan enggak dibayar,” ujar Teguh.
Selain manajemen keuangan, Dinas Koperasi dan UMKM Kutai Timur juga menaruh perhatian besar pada kualitas dan konsistensi produk. Dia menilai kualitas yang tidak stabil dapat membuat konsumen berpaling ke produk lain.
“Kalau dua atau tiga kali rasanya tidak enak, pasti konsumen pindah,” imbuh Teguh seraya mencontohkan perilaku konsumen dalam memilih produk makanan.
Untuk menjaga kualitas produk, dia mendorong pembentukan kelompok produsen dengan sistem quality control terpusat. Salah satu contohnya diterapkan pada produsen Amplang Batu Bara yang ditargetkan menembus pasar ekspor ke Sabah, Malaysia.
Dari sekitar 20 produsen yang dihimpun, lanjut dia, hanya lima yang dinilai konsisten dalam kualitas.
Kelima produsen tersebut diminta untuk berbagi resep dan menggunakan standar yang sama agar cita rasa produk seragam.
“Harus melepaskan ego masing-masing, harus berbagi resep supaya satu taste, satu rasa. Lima home industry ini kita butuh satu quality control,” tutur Teguh.
Ke depan, pihaknya juga mengusulkan pembangunan rumah produksi bersama. Fasilitas ini diharapkan dapat menjadi pusat produksi bagi pelaku usaha sejenis, sehingga penerapan standar produksi dan pengawasan kualitas dapat dilakukan secara lebih optimal dan berkelanjutan.(qi/ute)
![]()












