Opini

Fenomena Siswa Gemulai di Sekolah: Tren, Pengaruh Zaman, atau Alarm Sosial?

FENOMENA siswa laki-laki berperilaku gemulai di Kota Bontang menjadi sorotan publik. Bukan hanya sekedar berpenampilan seperti seorang perempuan saja, tapi karena munculnya kekhawatiran akan arah tumbuh kembang generasi muda di tengah perubahan zaman begitu cepat.

Di tengah derasnya pengaruh media sosial dan budaya digital, muncul pertanyaan besar: apakah ini sekadar tren gaya atau sinyal perubahan nilai di kalangan remaja yang perlu segera ditangani?

Oleh: Siti Nurhalimah

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni menegaskan fenomena ini tidak bisa dianggap sepele. Pemerintah tidak ingin langsung menghakimi tapi juga tidak bisa berdiam diri melihat perubahan perilaku yang dikhawatirkan memengaruhi pembentukan karakter generasi muda.

“Kami ingin memberikan pembinaan yang tepat, tanpa kekerasan dan tanpa stigma. Tujuannya agar anak-anak ini tetap tumbuh menjadi pribadi kuat dengan jati diri yang jelas,” ujarnya.

Pemerintah Kota Bontang bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) kini tengah mempersiapkan langkah konkret. Di awal tahun 2026, pendataan dan survei khusus akan dilakukan untuk memahami kondisi di lapangan sebelum menentukan kebijakan pembinaan.

Selain itu, tim deteksi dini di sejumlah sekolah juga mulai dibentuk, untuk memantau dan mendampingi siswa sejak awal bukan untuk menghukum, melainkan membimbing.

Pendekatan ini diharapkan bisa menjadi jembatan antara nilai moral dan dinamika sosial yang terus berubah. Pemerintah ingin memastikan pendidikan karakter tetap menjadi fondasi, sambil membuka ruang dialog agar anak-anak merasa diterima tanpa kehilangan arah.

Dr. A Wahid (2024) pakar psikologi perkembangan, menilai ekspresi gemulai pada remaja laki-laki bisa jadi bagian dari proses pencarian identitas diri.

Namun, menurutnya, fase ini harus mendapat pendampingan yang serius agar tidak berkembang menjadi kebingungan nilai.

“Remaja butuh ruang untuk mengenal diri, tapi juga butuh bimbingan agar tahu batas dan tanggung jawab sosial,” jelasnya.

Sementara itu, peneliti bidang konseling remaja MZ Damanik (2020) menyoroti pengaruh besar budaya digital terhadap perilaku anak muda. Menurutnya, paparan konten global membuat batas antara gaya dan identitas semakin tipis.

“Kalau tidak diarahkan, mereka mudah meniru tanpa memahami makna. Di sinilah pentingnya peran guru dan orang tua,” katanya.

TA Astrini (2015) seorang peneliti kajian sosial dan gender menambahkan, perubahan ekspresi gender di kalangan remaja tidak selalu negatif namun tetap perlu dikawal dengan nilai-nilai budaya bangsa.

“Kita tidak bisa menolak zaman, tapi bisa memastikan anak-anak tetap punya akar. Pembinaan harus hadir untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab,” tegasnya.

Fenomena siswa gemulai seharusnya jadi ruang refleksi bersama. Bukan sekadar bahan gunjingan, tapi pengingat bahwa arus perubahan sosial perlu diimbangi dengan pendidikan karakter yang kuat.

Pemerintah, sekolah, dan keluarga memiliki peran penting untuk memastikan anak-anak tumbuh dengan arah yang jelas tanpa rasa takut, tapi juga tanpa kehilangan nilai.

Dengan pendekatan yang tepat, ekspresi anak-anak muda bisa dihargai, sekaligus masa depan mereka tetap terjaga.

Bontang menapaki jalur tengah: menegakkan nilai dan aturan, tanpa mengekang kreativitas dan perubahan zaman. Setiap anak yang berbeda membawa potensi yang patut dirawat, bukan dikritik.

Dengan pembinaan yang humanis, diharapkan generasi muda dapat tumbuh percaya diri dan tangguh, tanpa rasa takut terhadap stigma atau tekanan sosial.

Karena sejatinya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kepintaran generasi mudanya, tetapi juga oleh karakter dan jati diri yang kokoh di tengah perubahan zaman.

Tugas kita bersama adalah memastikan mereka tidak kehilangan arah agar gemulai tidak menjadi tanda goyahnya masa depan, melainkan momentum untuk memperkuat pembinaan yang lebih manusiawi dan berkeadaban.(*)

*Penulis adalah Mahasiswi Program Studi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman, Samarinda.

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

error: