SANGATTA, KASAKKUSUK.com – PT Arkara Prathama Energi (APE) menggelar penanaman 4 ribuan mangrove di kawasan Pantai Teluk Lingga, Sangatta pada Kamis 12 Juni 2025.
Penanaman mangrove oleh PT APE melibatkan Pemkab Kutai Timur dan Jejakin. Jejakin merupakan korporasi penyedia teknologi iklim berfokus pada platform pengelolaan karbon.
Kepala Teknik Tambang PT Arkara Prathama Energi (APE), Akhmad Wasrip sebut penanaman mangrove sebagai bentuk komitmen PT APE terhadap pelestarian lingkungan sebagai rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni setiap tahunnya.
“Kegiatan ini tak hanya di Pantai Teluk Lingga tapi juga di sejumlah wilayah Kutai Timur, seperti Sandaran dan Bengalon
sebagai bentuk tanggung jawab pemegang Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH),” kata Wasrip kepada wartawan di sela acara penanaman mangrove tersebut.
Dijelaskan program ini merupakan implementasi dari regulasi berupa surat edaran Kementerian ESDM tentang Minerba yang mendorong perusahaan tambang untuk berpartisipasi aktif dalam kampanye lingkungan.
“RKAB (rencana kerja dan anggaran biaya) sudah ada program tersendiri. Salah satunya ada kampanye lingkungan, penanaman pohon sesuai tema Hari Lingkungan Hidup,” tuturnya.
Diceritakan pula program mangrove ini telah dirintis sejak kegiatan family gathering perusahaan pada 2023 dan mendapat dukungan dari grup induk perusahaan di Jakarta. “Ini bagian dari komitmen kami untuk mengurangi emisi karbon,” tegasnya.
Penanaman mangrove ini, lanjut dia, menjadi yang pertama bagi APE dan akan berlanjut di lokasi lain. “Kalau di Bengalon sekitar 89 hektare, dan di Sandaran sekitar 300-an hektare untuk kegiatan rehabilitasi,” ucap Wasrip.
“Seluruh perusahaan pemilik IPPKH wajib menanam di wilayah Kabupaten Kutai Timur, tidak boleh lagi di luar daerah seperti sebelumnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi mengemukakan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung rehabilitasi hutan mangrove sebagai bagian dari pelestarian lingkungan dan pemenuhan kebutuhan oksigen di tengah ancaman alih fungsi lahan dan ekspansi pertambangan.
Dia menilai penanaman kembali mangrove merupakan upaya mengembalikan keseimbangan alam dan memperbaiki kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumberdaya alam.
“Kita ini enggak sadari ya. Kita belum terasa nih. Tapi makin hari berdasarkan data, kita makin krisis oksigen,” ungkap Mahyunadi di sela acara tersebut.
Dengan ditanamnya lagi mangrove ini, dia berharap apa saja yang diambil dari alam harus bisa dipulihkan lagi oleh alam
“Mudah-mudahan oksigen kita selalu terpenuhi suplainya. Kita ingin masyarakat sadar bahwa lingkungan hidup yang hijau itu penting untuk kita bangun dan pertahankan,” pintanya.
Mengenai pertumbuhan mangrove, pihaknya akan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutai Timur untuk melaksanakan kegiatan pemantauan berkelanjutan. Ia juga menanggapi laporan adanya pembabatan mangrove di area sekitar penanaman.
“Apabila ada masyarakat atau siapa saja yang menggunakan lahan ini, harus dengan langkah-langkah bijak. Kita akan lihat tata ruangnya, kalau perlu revisi untuk penetapan wilayah mangrove, kita akan tempuh itu,” paparnya.
Tak cuma itu, dia juga mengimbau semua perusahaan di Kutai Timur untuk berkontribusi aktif dalam rehabilitasi lingkungan.
“Kami imbau perusahaan untuk proaktif mengembalikan apa yang mereka babat. Sudah ada aturannya, perusahaan wajib menghijaukan kembali lahan bekas tambang,” tegas Mahyudin. (ogy/ute)
![]()












