SANGATTA, KASAKKUSUK.com – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur mengintensifkan mitigasi bencana banjir menyusul prediksi BMKG tentang bencana hidrometeorologi yang masih akan berlanjut hingga Juni 2026. Sejumlah kecamatan dipantau ketat karena air sungai mulai naik.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mengemukakan, pihaknya terus memantau perkembangan cuaca dan ketinggian air sungai di sejumlah wilayah.
“Kita harus betul-betul konsen melihat perubahan siklon ini. Informasi BMKG masih akan berlanjut beberapa bulan. Kalau saya perhatikan itu sampai bulan Juni 2026,” tutur Ardiansyah kepada KASAKKUSUK.com di ruang kerjanya pada Rabu, 11 Desember 2025.
Dia bilang, meski intensitas hujan saat ini masih kategori ringan, tapi durasi yang panjang tetap saja berbahaya.
Saat ini, beberapa kecamatan mengalami kenaikan air sesuai siklus bulan purnama, antara lain Muara Wahau, Batu Ampar, Telen, Karangan, dan Bengalon.
“Kebetulan sekarang ini beberapa kecamatan kita, air lagi naik sesuai siklus bulan purnama. Naik, tiba-tiba hujan ya sudah up,” jelas Ardiansyah.
Meski demikian, dia bersyukur Kutai Timur belum pernah mengalami banjir bandang seperti yang terjadi di sejumlah daerah dan negara lain.
“Kita di Kutai Timur ini belum pernah banjir bandang. Hanya air sungai yang naik, kemudian masuk ke lingkungan, kemudian tertahan beberapa waktu, kemudian surut lagi,” ucap politikus PKS ini.
Sungai yang paling diwaspadai adalah Benu Muda karena merupakan muara dari Sungai Sangata.
Untuk antisipasi jangka panjang, kata dia, ada usulan membuat bendungan dan jalur sodetan. Tapi itu masih sebatas ide karena membutuhkan biaya besar dan harus berkoordinasi dengan pihak yang berwenang seperti Balai Wilayah Sungai (BWS).
Dalam rapat Forkopimda yang diperluas, Ardiansyah mengaku telah menginstruksikan seluruh instansi terkait untuk bersiap siaga.
Tim Badan Penanggung Bencana Daerah (BPBD) sudah ditempatkan di berbagai kecamatan rawan banjir.
“Pada saat rapat kemarin, semua dinas saya hadirkan. Sekarang ini segera siap sedia. Yang dimiliki siapkan tenaga, meskipun Anda tidak ada di kecamatan tapi tetap harus siaga,” tegas Ardiansyah.
Koordinasi lintas sektoral juga berjalan baik. Kapolres langsung turun ke Muara Wahau bersama tim, sementara Dandim melaporkan Babinsa dan Koramil di Muara Wahau serta Karangan sudah bergerak.
“Alhamdulillah, Kutai Timur belum pernah menetapkan status tanggap darurat bencana, kecuali saat banjir besar 2022,” bebernya.
Saat itu status tanggap darurat baru ditetapkan hari kedua, namun di hari keempat atau kelima genangan air sudah surut. (ute)
![]()












