MELINTASI ruas Jalan Laksamana Yos Sudarso Kota Samarinda adalah berjudi dengan kesabaran. Pemandangan ini tak pernah ingkar, ketika alarm kedatangan Kapal Motor (KM) Queen Soya, KM Pantokrator, dan KM Aditya dari Pelabuhan Kota Parepare, Provinsi Sulawesi Selatan berdentang. Seketika, denyut jantung Kota Samarinda pun melambat, bahkan berhenti.
Oleh: Mohammad Tahrir
Di mulut Pelabuhan Samarinda yang sesak, sebuah drama mingguan selalu dipentaskan. Jalanan macet total, bak urat nadi yang tersumbat. Tumpukan kendaraan memenuhi setiap jengkal badan jalan tak ada lagi batas antara trotoar, bahu jalan, dan aspal.
Arus manusia berdesakan, bergegas masuk dan keluar area pelabuhan, memanggul koper dan karung-karung barang. Suara-suara beradu membentuk simfoni bising yang menusuk telinga: pluit juru parkir dan petugas pelabuhan ditiup tak henti, diiringi raungan klakson kendaraan yang saling sahut-menyahut penuh frustrasi. Kesemrawutan total, sumpek, dan melelahkan.
Penggunaan kata sumpek dan semrawut untuk menggambarkan hiruk-pikuk Pelabuhan Yos Sudarno bukan mendramatisir.
Sajian laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda tentang Perkembangan Transportasi Kota Samarinda, April 2025 adalah buktinya.
Data BPS Samarinda melansir, selama periode April 2025 tercatat sebanyak 28.464 penumpang yang berangkat dan pergi melalui Pelabuhan Yos Sudarso Samarinda.
Angka tersebut belum termasuk jumlah pengantar penumpang, buruh pelabuhan, pedagang asongan atau kaki lima, dan sopir angkutan umum.
Kegiatan bongkar muat barang seperti peti kemas dan non peti kemas juga ikut berkontribusi terjadinya kemacetan.
Pada April saja, data BPS Samarinda mencatat tak kurang 260.549 ton barang yang diangkut dan diturunkan.
Namun di tengah hiruk-pikuk yang memuncak, terselip bisikan kabar menjanjikan: drama ini akan segera berakhir.
Semua kekacauan yang telah menjadi tradisi ajeg di Jalan Yos Sudarso, disebut-sebut akan tamat, seiring rencana pemindahan resmi seluruh aktivitas pelabuhan ke kawasan Bukuan, Kecamatan Palaran.
Samarinda, dengan slogan seksi barunya “Kota Peradaban” tengah mengambil ancang-ancang sebuah rencana ambisius: memindahkan seluruh kegiatan Pelabuhan Yos Sudarso yang berada di pusat kota ke kawasan Palaran.
Sebuah langkah yang bukan sekadar memindahkan lokasi, melainkan juga memindahkan harapan akan tata kota yang lebih rapi dan bebas sumpek.
Setiap kebijakan selalu berupa dua sisi mata uang, dua sudut pandang. Ada harapan dan tantangan, ada positif dan negatifnya. Sisi cerahnya, pemindahan ini diharapkan akan menghapus keruwetan menahun di pusat kota.
Selama puluhan tahun, Pelabuhan Yos Sudarso telah menjadi urat nadi logistik sekaligus pintu gerbang utama bagi ribuan penumpang yang keluar-masuk Samarinda.
Namun posisinya yang di pusat kota dan merupakan salah satu titik kawasan padat penduduk, justru menjadi sumber kemacetan. Setiap aktivitas bongkar muat kargo, dan terutama saat kedatangan atau keberangkatan kapal penumpang, seketika mengubah jalan-jalan di sekitarnya menjadi lautan kendaraan.
Rencana pemindahan ke Palaran, yang akan dikembangkan menjadi Pelabuhan Serbaguna (Multipurpose) digadang-gadang menjadi solusi elegan atas kesemrawutan ini.
Dampak positif yang paling dinanti adalah pemindahan ini secara fundamental akan menyelesaikan masalah penumpukan kegiatan bongkar muat barang dan penumpang di area padat penduduk Yos Sudarso.
Konsekuensinya, akan terjadi penguraian konsentrasi arus lalu lintas di kawasan pelabuhan lama, terutama pada hari-hari ramai naik-turunnya penumpang.
Dengan terbebasnya jalur logistik dari pusat kota, kawasan Yos Sudarso dapat kembali bernapas dan fokus pada fungsi komersial dan pusat pemerintahan yang lebih tertata.
Dengan berpindahnya pelabuhan, kawasan Yos Sudarso berpotensi besar untuk direvitalisasi menjadi ruang publik, area komersial yang tertata, atau bagian integral dari penataan ulang Tepian Mahakam sebagai “Teras Kota Samarinda”, meningkatkan estetika dan kenyamanan warganya.
Di sisi lain adalah tantangannya. Palaran sebagai tempat pelemparan kebijakan, saat ini pun masih berjibaku dengan sejumlah masalah dan tantangan yang butuh perencanaan matang.
Risiko terbesarnya adalah jika perencanaannya tidak matang. Kebijakan pemindahan ini hanya akan bersifat pemindahan masalah, dari yang semula kemacetannya di kawasan kota, nanti beralih ke Palaran.
Masalah kemacetan arus lalu lintas harus menjadi perhatian utama, terutama untuk jalur logistik ke lokasi baru. Rekayasa arus lalu lintas harus benar-benar disiapkan secara matang.
Idealnya, diperlukan perluasan kapasitas badan jalan atau dibuatkan tambahan badan jalan baru, terutama jalur khusus kendaraan kontainer.
Namun jika pembangunan jalur trayek baru khusus kontainer dianggap terlalu mahal, solusi alternatif yang harus didahulukan oleh Pemerintah Kota Samarinda dan Pemprov Kaltim adalah: mendahulukan pemindahan kawasan pergudangan lama yang saat ini tersebar di dua titik padat yakni Jalan Ir. Sutami dan Jalan Pangeran Suryanata ke kawasan seberang Samarinda.
Langkah strategis ini sangat penting. Dikhawatirkan, apabila rencana besar pemindahan pelabuhan tidak mempertimbangkan perlunya relokasi kawasan pergudangan ini sebagai sistem pendukung utama (support system) pelabuhan baru, justru akan memicu timbulnya dampak sosial lain.
Tanpa pemindahan gudang-gudang tersebut, konsentrasi pergerakan truk dan kontainer dari pusat kota ke Palaran dan sebaliknya akan tetap tinggi. Justru hal ini berpotensi menyebabkan pelonjakan kasus kecelakaan lalu lintas dan insiden korban jiwa di jalur yang sudah sempit dan ramai.
Ambil contoh kasus insiden maut antara truk kontainer versus pengendara roda dua di Jalan Ampera, Palaran pada November 2025 lalu. Korbannya adalah seorang pemuda usia produktif (21 tahun) bernama Yusin. Almarhum tewas mengenaskan terlindas ban truk kontainer. Satu generasi “berpulang”, sebelum mimpi besarnya terwujud.
Kasus lakalantas maut semacam itu perlu mendapat perhatian serius oleh pemangku kebijakan, agar tidak terulang. Kapasitas muat kendaraan angkutan kontainer yang besar, sementara kontur badan jalan yang selama ini digunakan kurang memadai. Ditambah lagi, jalur tersebut memiliki trek yang banyak tanjakan curam dan sempit, dan yang utama, lintasannya masih bercampur dengan pengguna jalan umum, rentan memicu kecelakaan dan kemacetan.
Selayaknya sebuah kebijakan besar, pasti akan ada efek positif dan negatif. Selain dampak lalu lintas, rencana pemindahan pelabuhan dipastikan akan memicu kecemasan pelaku usaha, terutama usaha jasa angkutan peti kemas.
Mereka adalah pihak yang harus menyesuaikan model bisnis dan trayeknya secara drastis. Jika Pemerintah Kota ingin memastikan transisi yang aman dan adil, solusi untuk keberlanjutan usaha mereka sejatinya juga harus dipastikan tersedia.
Sebab, apabila masalah ini tidak ditangani, efeknya pasti akan bermuara pada masalah ketenagakerjaan dan potensi gejolak sosial di sektor transportasi.
Masa Depan Logistik Berkelanjutan
Pemindahan Pelabuhan Yos Sudarso ke Palaran adalah lompatan visi untuk Samarinda, visi akan kota yang nyaman dan sistem logistik yang berkelanjutan.
Pembangunan ini menuntut sinergi antara pembangunan fisik pelabuhan, investasi swasta, dan yang paling krusial, penyiapan infrastruktur jalan pendukung yang prima, kebijakan relokasi gudang yang tepat waktu, serta jaminan skema bisnis baru bagi para penyedia jasa angkutan.
Menjadi ujian nyata bagi Pemerintah Kota dan Pemprov untuk membuktikan bahwa relokasi ini adalah solusi yang tuntas, bukan sekadar pemindahan masalah ke lokasi yang berbeda.
Samarinda menanti. Akankah pemindahan pelabuhan benar-benar membawa kota ini ke arah yang lebih tertata, lancar, dan adil secara ekonomi? Kita tunggu. (*)
*Penulis adalah Wartawan Legend dan Pengamat Sosial di Samarinda
![]()












