AdvertorialDiskominfo Kutai Timur

Pelayanan Kesehatan di Muara Ancalong Terkendala Kurangnya Dokter dan Obat

ANCALONG, KASAKKUSUK.com – Keterbatasan obat dan minimnya ketersediaan dokter masih menjadi persoalan serius dihadapi di Puskesmas Muara Ancalong, Kabupaten Kutai Timur. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas layanan kesehatan yang diterima masyarakat setempat.

Camat Muara Ancalong, Harun Al Rasyid mengungkapkan dengan kondisi kurangnya tenaga dokter serta terbatasnya obat-obatan menjadi kendala utama yang belum teratasi hingga kini.

Dia menyebutkan jumlah tenaga kesehatan, khususnya dokter masih jauh dari ideal. Kondisi ini juga dialami RSUD Muara Bengkal yang seharusnya menjadi fasilitas rujukan bagi wilayah pedalaman.

“Kalau tenaga kesehatan khususnya dokternya itu masih kurang. Obat-obatan juga terbatas,” ungkap Harun kepada KASAKKUSUK.com pada Kamis, 20 November 2025.

Selain minim dokter, kata dia, ketersediaan obat-obatan juga menjadi masalah lain yang turut menghambat pelayanan.

Adapun obat yang tersedia, lanjut dia, mayoritas obat generik. Sementara obat paten atau obat dengan kualitas lebih baik jumlahnya sangat terbatas.

“Terkadang obat-obatannya kurang. Biasanya lebih ke obat-obatan yang kurang paten. Obat yang biasa-biasa saja. Jadi mau tidak mau karena memang keterbatasan,” tutur Harun.

Kondisi tersebut, lanjut dia,  berdampak langsung pada masyarakat. Pasien dengan penyakit tertentu yang membutuhkan obat khusus sering kali terpaksa membeli sendiri di kota atau dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

Perjalanan menuju Sangatta, Samarinda atau Balikpapan menjadi pilihan terakhir, meski jaraknya jauh dan biaya yang dikeluarkan lebih besar.

Menurutnya kesulitan menambah tenaga dokter disebabkan oleh karakteristik wilayah yang tidak menawarkan banyak peluang praktik tambahan.

Di daerah seperti Sangatta, dokter bisa bekerja di beberapa fasilitas sekaligus, sehingga penghasilan lebih besar. Namun di Muara Ancalong dan Muara Bengkal, jumlah fasilitas kesehatan sangat terbatas. “Kalau misalnya mereka cuma di satu tempat, dari segi penghasilan kurang. Tidak seperti di Sangatta,” ujar Harun Al Rasyid.

Dia mencontohkan dokter di Sangatta dapat bekerja di RSUD Kudungga sambil menangani pasien di Rumah Sakit Meloy, UPTD, maupun fasilitas lain seperti SOHC. “Nah, itu yang tidak ada di Muara Ancalong. Sehingga ketertarikan dokter bertugas di Muara Ancalong khususnya spesialis masih rendah,” ucap Harun.

Meski Dinas Kesehatan disebut telah berupaya menambah tenaga medis, namun implementasinya dianggap Harun belum efektif.

Karena itu, pihaknya berharap ada kebijakan khusus untuk menarik minat dokter bertugas di wilayah terpencil, termasuk insentif tambahan atau skema penghasilan yang lebih menarik. “Ada solusinya dari Dinas Kesehatan, hanya saja bagaimana menarik minat dokter-dokter ingin bekerja di daerah kami,” ujar Harun.

Dia menegaskan kekurangan dokter dan obat-obatan harus segera ditangani karena masyarakat sangat bergantung pada layanan kesehatan setempat. “Warga yang sakit serius harus menempuh perjalanan jauh. Ini berat, terutama bagi pasien darurat,” katanya.

Program Dokter Share yang memberi pelayanan medis gratis kepada warga Muara Ancalong dan kecamatan sekitarnya mulai 10 hingga 19 November 2025 lalu dinilainya sangat membantu, namun sifatnya hanya sementara.

Itu sebabnya, dia berharap adanya solusi permanen dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. “Kami minta perhatian serius Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan Dinas Kesehatan, baik peningkatan anggaran, perbaikan fasilitas, maupun kebijakan insentif bagi tenaga medis,” papar Harun. (adv/ute)

 

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

error: