DaerahRagam

Ancaman Karhutla Mulai Meningkat, BPBD Kaltim Catat 845 Bencana Sepanjang 2025 

SAMARINDA, KASAKKUSUK.com – Memasuki awal 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kaltim memberi perhatian khusus terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah seluas 127.346,92 km² tersebut.

Sebab ancaman karhutla saat ini mulai menunjukkan peningkatan di provinsi berpenduduk 4.270.000 jiwa ini.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan menilai  kondisi cuaca yang lebih panas memperbesar potensi kebakaran, namun aktivitas manusia masih menjadi faktor utama.

“Aktivitas masyarakat membuka lahan dengan cara membakar masih menjadi pemicu utama. Kondisi cuaca terik membuat api cepat merambat dan sulit dikendalikan,” ungkap Buyung didampingi Muriono dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kaltim dalam keterangannya pada Rabu, 4 Februari 2026.

Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kaltim mencatat sebaran titik panas banyak ditemukan di Area Penggunaan Lain (APL) dan lahan warga yang tengah disiapkan untuk masa tanam. Daerah Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, dan Berau disebut sebagai wilayah paling rawan.

Karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan pembakaran lahan, mengingat dampak karhutla tak hanya merusak ekosistem, tapi juga mulai mengganggu kualitas udara di kawasan permukiman.

Selain itu, BPBD Kaltim juga mencatat lonjakan signifikan kejadian bencana sepanjang Januari hingga Desember 2025.

“Total terdapat 845 kejadian bencana di Kaltim dengan nilai kerugian ekonomi mencapai Rp40,79 miliar,” beber Buyung.

Dia menjelaskan bahwa bencana hidrometeorologi masih mendominasi kejadian di Kaltim sepanjang 2025 silam.

Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kaltim, banjir menjadi bencana paling sering terjadi dengan 267 kejadian. Kemudian kebakaran pemukiman tercatat 249 kejadian, disusul tanah longsor sebanyak 149 kejadian.

Selain itu, gempa bumi terjadi 56 kali, cuaca ekstrem 42 kejadian, karhutla 34 kejadian, serta kategori lain-lain sebanyak 44 kejadian. Adapun kekeringan dan gelombang tinggi atau abrasi masing-masing tercatat dua kejadian.

Rentetan bencana tersebut, kata dia, berdampak luas terhadap masyarakat. BPBD Kaltim mencatat 78 orang meninggal dunia, 22 orang dinyatakan hilang, serta 55 orang mengalami luka-luka atau sakit. Sebanyak 278 warga terpaksa mengungsi dan 161.976 orang lainnya masuk dalam kategori terdampak.

Dia bilang, kerusakan infrastruktur juga tergolong besar. Sebanyak 399.940 unit rumah dilaporkan tergenang, 128 kios dan ruko mengalami kerusakan, serta ratusan fasilitas publik terdampak, terdiri atas 122 fasilitas umum, 59 fasilitas pendidikan, 48 perkantoran, dan 38 fasilitas kesehatan.

Tak cuma itu, kerusakan terjadi pada akses jalan sepanjang 23,46 kilometer dan 15 jembatan, serta kebakaran lahan seluas 333,07 hektare. (mn/ute)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

error: