PARTISIPASI perempuan dalam berbagai hal memang menjadi sesuatu hal menarik untuk diperbincangkan. Apalagi topik yang dibahas partisipasi perempuan dalam politik. Sebab sudah mulai banyak bermunculan politikus perempuan yang terlibat dalam urusan politik di Tanah Air.
Kesetaraan gender laki-laki dan perempuan dalam politik telah mendapat pengakuan. Gender adalah sebuah istilah untuk mendeskripsikan peran, tanggung jawab, sifat, dan perilaku yang dilekatkan pada perempuan dan laki-laki sebagai hasil dari konstruksi sosial.
Dalam UU Pemilu pun disyaratkan untuk pengajuan calon legislatif, partai politik wajib untuk memastikan 30 persen keterwakilan perempuan dan dalam pengisian nomor urut daftar caleg setiap urutan tiga calon wajib ada seorang perempuan.
Hal ini untuk memastikan agar perempuan juga memiliki hak yang sama untuk bisa berkompetisi dengan para laki-laki dalam menjadi politisi atau terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat baik di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota.
Harus diakui ada partai politik yang kewalahan dalam mencari kader perempuan. Karena minat yang kurang dari para perempuan dalam berpolitik. Tetapi ada juga partai politik memiliki banyak kader perempuan.
Sehingga hal ini tentunya dibutuhkan kerjasama para pihak dalam melakukan pembinaan atau pendidikan politik bagi kaum perempuan agar mau terlibat dalam urusan politik baik sebagai simpatisan, anggota, maupun pengurus atau perwakilan partai politik di DPR, DPRD tiap tingkatannya.
Sejak lepas dari Kabupaten Kutai Barat dan menjadi kabupaten termuda di Kaltim pada 2013, Mahakam Ulu (Mahulu) telah dua kali menggelar pemilihan bupati dan wakil bupati atau lebih dikenal dengan Pilkada yakni pada 2015 dan 2020.
Dari dua perhelatan politik di Mahulu tersebut belum pernah memunculkan sosok perempuan baik calon bupati maupun calon wakil bupati.
Apakah memang tidak ada sosok perempuan memiliki kapasitas, integritas dan elektabilitas untuk maju di Pilkada Mahulu?
Berdasarkan angka partisipasi laki-laki dan perempuan dalam dua periode perhelatan Pemilu di Mahulu tergolong cukup tinggi.
Dari 20 alokasi kursi DPRD Mahulu periode 2019-2024 diisi 12 orang laki-laki dan 8 orang perempuan.
Begitu pula, hasil Pemilu 2024 dengan komposisi sama yakni calon terpilih anggota DPRD Mahulu periode 2024-2029 sebanyak 12 orang laki-laki dan 8 orang perempuan.
Artinya, tingkat partisipasi perempuan dalam dua kali perhelatan Pemilu saja sudah mencapai 40 persen.
Bahkan tiga besar perolehan suara terbanyak calon anggota DPRD Kabupaten Mahakam Ulu dalam Pemilu 2024 diraih oleh perempuan masing-masing dari Partai Gerindra.
Pertama, Owena Mayang Shari Belawan dengan perolehan 1.154 suara disusul seniornya Novita Bulan dengan perolehan 1.120 suara dan posisi ketiga, Devung Paran dengan perolehan 580 suara.
Dengan demikian, peluang partisipasi perempuan dalam Pilkada Mahulu tentu sangat terbuka lebar. Mestinya, partai politik menjadikan hal ini sebagai pertimbangan dalam mengusung perempuan di Pilkada Mahulu 2024.
Tentunya jika bercermin dengan perolehan suara dalam Pemilu 2024, maka peluang dari ketiga nama itu sangat besar untuk dapat berkompetisi sebagai calon bupati atau wakil bupati Mahulu periode selanjutnya.
Sebab tak bisa dibantah lagi sejumlah sosok perempuan ternyata memiliki kapasitas dan elektabilitas untuk maju bertarung di Pilkada Mahulu. Namun kembali lagi soal faktor keberuntungan di antara mereka untuk bisa mendapatkan rekomendasi dari ketua umum partai politik.
Figur seorang Owena Mayang Shari Belawan sebagai peraih suara terbanyak. Tentu menjadi opsi menarik untuk dipertimbangkan untuk diusung. Meski sebagai pendatang baru dalam Pemilu 2024 tapi dia bisa meraih suara terbanyak.
Hal ini tentu pencapaian luar biasa dengan semangat dan usianya masih terbilang muda. Selain itu, Owena Mayang Shari Belawan dianggap bisa mewakili aspirasi anak muda.
Kemudian sosok Novita Bulan sebagai peroleh suara terbanyak kedua dalam Pemilu 2024 di Mahakam Ulu. Dia juga salah satu pilihan terbaik. Berbekal menjabat ketua DPRD Mahakam Ulu periode 2019-2024 tentunya menjadi modal yang kuat baginya untuk maju sebagai salah satu calon bupati atau wakil bupati Mahulu.
Sedangkan mengenai sosok Devung Paran belum bisa dipertimbangkan maju di Pilkada 2024 jika melihat perolehan suaranya di Pemilu 2024 masih terpaut jauh dari dua koleganya.
Tapi Devung Paran tak bisa juga dianggap remeh. Sebab dia memiliki basis pemilih yang loyal sehingga bisa melenggang ke DPRD Mahakam Ulu untuk kali kedua.
Lantas siapa perempuan bisa maju di Pilkada Mahulu 2024? Jawabnya tentu di tangan para pimpinan partai politik sebagai pengusung pasangan calon.
OPINI | Penulis : Frederik Melawen, SH., MM [Pemerhati Pemilu]
![]()












