SANGATTA, KASAKKUSUK.com -Produk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Kutai Timur tak hanya dipasarkan di tingkat lokal namun kini juga bakal menembus pasar internasional. Produk lokal amplang batu bara ternyata diminta pelaku usaha di Sabah Malaysia.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kutai Timur, Teguh Budi Santoso mengungkapkan pihaknya saat ini belum ada mengekspor produk lokal ke luar negeri secara signifikan. Tapi kata dia, ada Letter of Intent (LoI) dari Sabah, Malaysia meminta produk amplang batu bara diekspor ke negeri Jiran.
Menurutnya, LOI tersebut sudah mencapai tahap perjanjian kerja sama (PKS) dan tinggal menunggu proses perizinan untuk dapat mengirim produk tersebut ke luar negeri.
“Permintaan pasar di Sabah untuk produk amplang batu bara mencapai satu kontainer atau setara dengan 3 ton. Tentu saja, permintaan ini tidak bisa dipenuhi hanya oleh satu pelaku UMKM saja. Sehingga kami terus berupaya melibatkan lebih banyak pelaku usaha di Kutai Timur,” beber Teguh kepada KASAKKUSUK.com di ruang kerjanya pada Selasa, 18 November 2025.
Teguh menjelaskan bahwa sebagian besar produk yang diproduksi oleh UMKM di Kutai Timur merupakan produk lokal yang memiliki keunikan tersendiri. Tak hanya brownies singkong tapi sejumlah produk lokal laku di pasar nasional melalui pameran UMKM yang selama ini diikuti di Jakarta.
“Contohnya, ada UMKM yang memproduksi keripik pisang, bagelen, browsing (brownies singkong) dan berbagai makanan lokal lainnya. Produk ini biasanya dibawa saat ada ekspo diikuti dari berbagai daerah,” kata Teguh.
Untuk mendukung pemasaran produk UMKM, Dinas Koperasi dan UKM tak hanya aktif dalam pameran tapi juga mengikuti business matching UMKM terjadwal.
Dia menjelaskan business matching merupakan kegiatan pertemuan bisnis terjadwal mempertemukan para pelaku bisnis dengan calon mitra potensial seperti distributor, pemasok, investor, atau klien untuk membangun koneksi dan peluang kerja sama.
“Kami banyak melakukan business matching dengan penyelenggara acara dari pusat, sehingga produk lokal kita bisa bertemu dengan buyer, baik domestik maupun luar negeri,” papar Teguh.
Meski produk UMKM lokal mulai mendapatkan tempat di pasar, namun ekspor produk UMKM masih dalam tahap pengembangan.
Karena itu, pihaknya gencar melakukan pembinaan dan pelatihan terhadap pelaku UMKM, baik melalui program pelatihan maupun sertifikasi halal, hingga peluang ekspor produk lokal seperti amplang.
Itu sebabnya, instansi dipimpinnya juga berupaya meningkatkan kualitas dan daya saing produk UMKM di pasar domestik dan internasional.
Dikemukakan pula sejumlah langkah strategis dilakukan untuk mendukung pengembangan sektor UMKM. Misalnya kegiatan pembinaan meliputi berbagai aspek, termasuk pelatihan dan bimbingan teknis (bimtek) bagi pelaku UMKM.
“Kami fasilitasi pelatihan dan bimtek ini untuk pengembangan produk dan pengelolaan usaha, termasuk sertifikasi halal bagi produk UMKM,” tambahnya.
Tahun lalu, lanjut dia, sekitar 60 UMKM telah mendapatkan sertifikat halal, sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas produk yang bisa bersaing di pasar global.
Teguh juga menegaskan pentingnya kurasi produk UMKM. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa produk yang dipasarkan tidak hanya memiliki kualitas yang baik, tapi juga memenuhi standar yang ditetapkan. “Kami melakukan kurasi produk untuk memastikan kualitas dan kesesuaian produk dengan permintaan pasar,” ujar Teguh. (adv/ute)
![]()












