UPAYA Partai Demokrat Kutai Timur mengusung Irwan Fecho maju sebagai calon bupati di Pilkada Kutai Timur tidak main-main.
Buktinya, Partai Demokrat sudah mendaftarkan kader terbaiknya tersebut di tiga parpol yang dianggap potensial membentuk Koalisi Poros Tengah.
Ketiga parpol yang telah menerima berkas pendaftaran Irwan yakni PDI Perjuangan, Partai Nasdem dan terakhir PAN.
Ketua DPD Partai Demokrat Kutai Timur, Ordiansyah di setiap kesempatan selalu menyatakan Irwan mendaftar bakal calon bupati sebagai bentuk keseriusan.
Sehingga wacana terbentuknya Poros Tengah di Pilkada bukan isapan jempol belaka. Meski hingga kini, belum ada kabar DPP Demokrat memberi rekomendasi sebagai “tiket” Irwan maju Pilkada bertarung melawan dua calon petahana masing-masing Bupati Ardiansyah Sulaiman dan Wakil Bupati Kasmidi Bulang.
Irwan saat ini dikabarkan tengah berada di Jakarta fokus menjalankan tugasnya sebagai anggota Komisi V DPR RI, namun para relawan dan simpatisannya di Kutai Timur terus bergerak masif memperkenalkan tokoh mudanya yang dianggap layak mewakili kaum milenial di Pilkada nanti.
Aksi propaganda kelompok milenial pendukung Irwan bermunculan di mana-mana. Bahkan aksi ini menjamur hingga ke pelosok.
Mereka berkumpul di kafe atau tempat-tempat nongkrong anak muda kemudian berfoto bersama sambil menenteng poster berukuran kecil bergambar Irwan Fecho.
Lantas apakah Irwan bisa dianggap layak mewakili kaum milenial?
Jawabannya, tunggu hasil survei lembaga survei yang disewa oleh masing-masing parpol penyokong kandidat.
Kalau itu juga belum yakin maka sekalian tunggu hasil pemungutan dan penghitungan suara Pilkada Kutai Timur 27 November 2024.
Sebab di era robotik yang banyak menggantikan pekerjaan manusia sekarang ini tak disarankan menggunakan jasa “orang pintar” untuk menerawang siapa kandidat disukai pemilih milenial dan Gen Z.
Tapi dalam beberapa bulan terakhir, upaya tim pendukung kedua petahana juga tampak berhasil memikat hati kaum muda dengan terpasangnya poster mereka berukuran 5 x 10 meter bergambar foto menggunakan platform kecerdasan buatan. Kalau bahasa gaulnya artificial intelligence (AI) yang mampu menyulap foto jadi gambar kartun gemoy nan menggemaskan.
Demikian upaya para pendukung kandidat untuk menarik minat pemilih muda yang patut diapresiasi.
Dari segi usia, Irwan satu-satunya bakal calon paling muda di antara dua rivalnya. Anak muda Sangkulirang ini baru berusia 45 tahun. Sebab dia lahir 30 April 1979.
Dibanding Ardiansyah Sulaiman kini usianya 60 tahun. Politikus kawakan PKS ini lahir di Kecamatan Muara Pahu, pada 5 Februari 1964 silam. Sedangkan usia Kasmidi Bulang 47 tahun, terpaut 2 tahun lebih tua dari Irwan. Politikus Golkar ini lahir di Masabang Sangatta Selatan pada 31 Desember 1976 lalu.
Tapi mengenai usia kandidat paling muda juga bukan garansi otomatis menjadikannya sebagai magnet pemikat sukma kaum milenial. Tergantung, kreativitas semua tim kandidat.
Sebab tidak menutup kemungkinan aksi kampanye kelompok milenial serupa juga bermunculan mendukung kedua petahana. Sebab, simpatisan dan relawan pendukung petahana tentu tak tinggal diam.
Alasannya memang cukup masuk akal. Sebab, potensi suara pemilih milenial dan generasi zoomer atau lebih populer dengan sebutan Gen Z jumlahnya menggiurkan.
Diperkirakan jumlah mereka makin bertambah hingga menjelang hari pencoblosan. Pemilih milenial dengan usia 27-42 tahun jumlahnya menggiurkan karena lebih banyak dari pemilih Gen Z yang usianya di bawah 27 tahun.
Menurut daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2024 Kutai Timur tercatat 299.914 orang terdiri dari 161.802 laki-laki dan 138.112 perempuan. Dari jumlah DPT itu dibagi jadi beberapa kategori, dua di antaranya pemilih milenial dan Gen Z.
Pemilih milenial ini sebanyak 117.795 jiwa dari jumlah DPT. Mereka tersebar di semua kecamatan. Jumlah terbanyak di Sangatta Utara yakni 36.336 jiwa, lalu Bengalon 11.567 jiwa.
Sedangkan pemilih Gen Z sebanyak 85.960 jiwa tersebar di 18 kecamatan. Jumlah mereka terbanyak di Sangatta Utara yakni 23.798 jiwa.
Dari gambaran itu maka wajar kelompok pemilih muda ini bakal jadi incaran ketiga bakal calon bupati. Ketiga kandidat tentu akan menurunkan tim strategi pemenangan hingga konsultan politiknya berpikir keras memutar otak memetakan kecenderungan dukungan kaum muda memilih calon yang dianggap tepat dan pantas mewakilinya.
Ketiga kelompok pendukung calon bupati ini memang berhak melampiaskan ekspresinya dengan berbagai aksi demi menarik simpati pemilih muda.
Pesan bagi ketiga kandidat; tetaplah berusaha, berdoa dan bersaing secara sehat. Tetaplah semangat merawat persatuan dengan memupuk rasa persaudaraan.
Tancapkan rasa cinta untuk membangun Kutai Timur. Karena Anda sekalian masih memiliki rakyat yang peduli. Kita tunggu kejutan anomali politik berikutnya. (*)
OPINI | Penulis : Sayuti Ibrahim
![]()












