AdvertorialDPRD Kutai Timur

Sepenggal Kisah Agusriansyah Ridwan, Legislator Kutim Asal Sangkulirang

KUTAI TIMUR – Keputusan untuk berhenti dari pekerjaan sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah sebuah keputusan yang menandakannya memiliki sosok yang optimistis dan berani dalam mengambil resiko kehidupan. Begitu pula, sikap yang tidak dapat melihat orang lain tertindas dan susah, merupakan modal dasar bagi Agusriansyah Ridwan, S.IP, M.Si dalam menapaki dunia politik di Kabupaten Kutai Timur.

Berkarir lewat Partai Keadilan (PK) Kecamatan Sangkulirang, pria kelahiran tahun 1975 ini, kini menjabat sebagai Ketua Bidang Humas dan Polhukam DPD Partai Keadilan Sejahtera Kutim serta sebagai wakil rakyat di DPDR Kabupaten Kutai Timur (Kutim) periode 2019-2024.

Agusriansyah Ridwan bercerita, keputusannya untuk berhenti dan mengundurkan diri dari status PNS yang pernah disandangnya adalah sebuah peristiwa besar dalam hidupnya. Bukannya mempertahankan pekerjaan yang dinimati banyak orang tersebut, Agusriansyah justru melepasnya dan memutuskan berkarir di dunia politik.

“Iya itu keputusan besar dalam hidup saya. Bahkan saya sampai mencium kaki orang tua saya untuk meminta restu agar dapat diizinkan berhenti sebagai PNS dan berkarir di politik,” kenangnya haru, saat wawancara dengan wartawan berandaindonesia di kediamannya pada, Kamis (28/07/2022).

Agus mengaku, sewaktu kecil hidupnya tidak sebahagia anak-anak lain di perkotaan dan dari keluarga mampu. Orang tuanya adalah perantauan asal Sulawesi Selatan yang berpindah ke Sulawesi Tengah sebelum akhirnya memutuskan tinggal dan menetap di Sangkulirang, Kalimantan Timur.

Sekitar tahun 1960-an, ujar Agus, orang tuanya merantau ke Sangkulirang dan saat banjir kap (istilah untuk mengatakan era perkayuan saat jaya) bekerja sebagai buruh angkut kayu ke kapal. Pekerjaan ini dilakoni orang tuanya beberapa tahun sebelum akhirnya membuka usaha sawmill sendiri dengan alat sedehana berupa gergaji tangan manual. Gergaji manual saat itu berupa gergaji besar dan panjang yang harus digunakan dua orang untuk membelah potongan kayu besar menjadi papan dan balok ukuran kecil.

Sekitar kurang lebih tahun tahun 1970-an, usaha orang tua Agus dari perkayuan berubah menjadi usaha jualan pakaian. Kian hari usaha orang tuanya terus membesar hingga memiliki toko pakaian di daerah Tanjung Babi yang kini berganti mejadi Tanjung Harapan.

“Barangnya diambil dari Sulawesi Selatan dibawa ke Sangkulirang menggunakan kapal. Usaha orang tua saya terus berkembang hingga kami memiliki kapal pengangkut orang dan barang hingga orang tua saya meninggal pada tahun 2010,” ucapnya.

Agus mengingat-ingat kisahnya sewaktu kecil dengan penghidupan yang sulit. Dirinya harus berpindah-pindah sekolah antara Sangkulirang dan Sulawesi Selatan tempat keluarga besarnya bermukim. Hingga akhirnya Agusriansyah dapat menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar Impres di Palakka dan SMP di Kabupaten Barru, Sulsel. Pendidikan SMA dienyamnya di SMA YPS, Sangkulirang dan melanjutkan menempuh pendidikan Sarjana Strata Ilmu pemerintahan, S2 Kebijakan Publik dan sekarang menempuh S3 di Unmul. Politisi PKS ini juga merupakan lulusan terbaik S2 Kebijakan Publik Unmul dengan torehan IP 4.00.

Anak pertama dari 6 bersaudara ini menangung tanggungjawab besar dalam keluarga. Masa kecil yang keras mengharuskannya banyak menghabiskan waktu bekerja daripada bermain. Namun hal tersebut tidak disesalinya kini. Bahkan cerita masa lalu yang indah tersebut dijadikannya warna untuk mawas diri, bercermin hati dan selalu merendah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam tugasnya.

“Saya sejak kecil saja memang sempat menjadi nelayan juga ikut ke laut mencari ikan. Bahkan saya pernah mengambil batu-batu di sungai untuk dijual dengan upah seribu rupiah. Samalah seperti anak kecil lainnya di kampung seperti mengambil air di sumur. Saya memang selagi di SD sudah hidup sama nenek,” ujarnya.

Pria yang pernah mendaftar sebagai tentara ini pernah mengikuti seleksi calon Bintara TNI. Walau tidak lulus namun karena telah lolos hingga tahapan Bintara, sehingga masih berkesempatan untuk menjadi Tamtama dan melaksanakan pendidikan di Banjarmasin. Lagi-lagi karena jarak geografis antara Samarinda dan Sangkulirang saat itu sangat jauh, maka kesempatan untuk menjadi Tamtama TNI dilewatkan oleh Agusriansyah.

Setelah gagal menjadi tentara, Agusriansyah yang telah terlanjur dikenal sebagai pemuda asal sebuah kecamatan kecil di tahun 1990-an, diundang kembali oleh Korem 091/Aji Surya Natakesuma di Samarinda untuk mengikuti pelatihan bela Negara, yaitu pelatihan Hankamrata (Sistem Pertahanan, Keamanan Rakyat Semesta) selama tiga bulan.

“Setelah mengikuti pelatihan Hankamrata ini, konsekuensinya harus mau bekerja di Kantor Camat ataupun bergabung ke Sekolah Menengah Atas. Saya mengabdi jadi TU dan menjadi Guru itu di SMA Negeri 1 Sangkulirang dan juga mengajar di beberapa sekolah seperti di SMK Muhammadiyah Sangkulirang dan Madrasah Aliyah dan MTs Nurussa’adah Sangkulirang. Di tahun 1998 saya dipercayakan untuk menjadi salah satu tenaga pendidik guru mengajar bidang studi sejarah dengan bidang studi Penjaskes. Setelah menerima SK saya mengajar di SMA Negeri 1,” terangnya.

Agusriansyah yang telah aktif di Partai Keadilan dari tahun 1998 sebelum menjadi Partai Keadilan Sejahtera di tahun 2002 ini bahkan sebelum partai keadilan tahun 1998 berdiri beliau ikut tergabung dalam gerakan politik, PDI-P, Golkar dan bahkan menjadi saksi dari PPP. Tentu asam garam tentang politik praktis sangat dikuasai beliau.

“Saya sampai mencium kaki ibu saya untuk meminta restu mengundurkan diri sebagai PNS dan memilih berkarir di politik. Apalagi saat itu sudah punya istri. Tetapi setelah dibantu adik saya Irwan (yang saat ini merupakan anggota DPR RI asal Kaltim) untuk meyakinkan orang tua, akhirnya ibu dan istri tercinta merelakan untuk mencari pekerjaan baru. Bismillah, saya mengundurkan diri di 2012,” ujarnya.

Dijelaskan Agus, kiprahnya di dunia politik memang menjadi cita-citanya setelah dewasa. Apalagi Agusriansyah kecil tidak bisa melihat ada orang yang terdzolimi atau mengalami ketidakadilan dan kesewenangan.

Ayah dari Jihan Raihana dan Ayat Al Fatih ini mengatakan jika dunia politik kini telah menjadi dunia pilihannya. Dikatakannya, orientasi sebenarnya menjadi politikus karena menilai jalur politik ini merupakan jalur yang paling tepat mendedikasikan diri dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Sebenarnya mengabdi dan memberi manfaat kepada masyarakat bisa dimana saja. Guru juga pekerjaan mulia. Tetapi bagi saya waktu itu punya cita-cita dan harapan besar untuk memberikan hasil yang maksimal seperti ide-ide dan konsep-konsep, perjuangan-perjuangan atas kegerahan terhadap ketidakadilan dan sebagainya bisa disuarakan secara regulatif, secara bebas melalui panggung-panggung politik,” tegasnya.

Dirinya juga mempersilahkan masyarakat untuk kritik dan menilai perjuangannya sebagai politikus dinilai masih belum maksimal. Menurutnya, orang boleh saja menilai. Menurutnya, penilaian orang selalu ada sampai kapanpun. Menurutnya, kritik dan penilaian orang sebagai suplemen dan cambuk untuk bisa lebih maksimal jadi anggota dewan.

“Saya melihat jalur politik ini luas perannya. Untuk itu, untuk apa namanya penilaian orang itu tidak bisa kita ukur. Silahkan saja. Tapi yang pasti saya berangkat dari niat itu bagaimana bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya,” ucap Agusriansyah mengakhiri wawancara. (Adv-DPRD/Yul/Q)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

error: