HARI Pers Nasional (HPN) diperingati setiap 9 Februari bukan sekadar seremoni tahunan atau ajang kumpul-kumpul insan media.
Bagi kita di Provinsi Kaltim, HPN adalah momentum untuk berkaca diri. Di tengah deru pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan transformasi ekonomi yang sedang kita jalani, pertanyaan besarnya adalah: Di mana posisi pers kita hari ini?
Oleh: Rusdiansyah Aras
Sebagai bagian dari keluarga besar pers sekaligus penggiat olahraga, saya melihat adanya paralelisme yang kuat antara atlet dan wartawan.
Keduanya membutuhkan disiplin, sportivitas, dan daya tahan. Untuk mewujudkan Kaltim yang berdaulat secara ekonomi dan kuat secara karakter, kita membutuhkan tiga pilar utama:
Menyehatkan Pers: Kembali ke Khittah Integritas
Pers yang sehat adalah hulu dari demokrasi yang jernih. Sehat di sini bukan sekadar perkara neraca keuangan perusahaan yang hijau, melainkan sehatnya idealisme.
Uji Kompetensi sebagai “Pemanasan”
Ibarat atlet yang harus melewati kualifikasi, wartawan wajib mengantongi sertifikasi UKW. Ini bukan formalitas, melainkan jaminan bahwa produk yang dikonsumsi masyarakat adalah informasi yang etis dan akurat.
Independensi yang “Berotot”
Pers harus mampu berdiri tegak di tengah arus politik. Fungsi kontrol sosial harus tetap tajam, namun bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengoreksi secara konstruktif demi kepentingan publik.
Penjernih di Tengah Polusi Informasi
Di era banjir media sosial, pers harus menjadi filter. Saat hoaks menjadi polusi, pers harus hadir sebagai oksigen yang menyegarkan pikiran rakyat.
Kedaulatan Ekonomi: Pers sebagai Katalisator Perubahan
Kaltim sedang berada di persimpangan jalan, beralih dari ketergantungan pada tambang menuju ekonomi hijau dan hilirisasi. Di sinilah peran strategis pers diuji.
Mengawal IKN agar Tak Menjadi Penonton, Kita tidak ingin warga Kaltim hanya mencium aroma pembangunan IKN tanpa merasakannya di piring nasi mereka.
Pers harus menyuarakan kepentingan lokal agar IKN menjadi motor kedaulatan ekonomi rakyat Kaltim, bukan sekadar proyek mercusuar.
Panggung untuk UMKM: Pers harus menjadi “sales marketing” bagi potensi daerah.
Dari keindahan pariwisata Berau hingga kreatifitas UMKM di pelosok desa, semuanya butuh narasi yang kuat agar dilirik dunia internasional.
Kaltim Kuat: Sinergi Fisik, Mental, dan Informasi
Sejalan dengan semangat saya di dunia olahraga, Kaltim yang kuat hanya bisa dicapai melalui pembangunan SDM yang utuh.
Menembus Pelosok:
Informasi pembangunan tidak boleh hanya berputar di ibu kota provinsi. Pers memiliki tugas suci memastikan saudara-saudara kita di Mahakam Ulu hingga garis pantai terluar mendapatkan informasi yang setara.
Narasi Prestasi:
Kita butuh lebih banyak cerita tentang pemuda-pemuda hebat, tentang atlet-atlet yang berjuang di gelanggang, dan tentang inovator lokal. Mengapa? Karena narasi prestasi akan membangun mentalitas juara bagi seluruh rakyat Kalimantan Timur.
Solusi Masa Depan
Menjadikan pers sehat dan ekonomi berdaulat tidak bisa dilakukan sendirian. Kita butuh kolaborasi. Pemerintah daerah perlu memandang pers sebagai mitra strategis dalam edukasi, bukan sekadar objek pemberitaan. Sebaliknya, perusahaan pers harus adaptif terhadap teknologi digital tanpa sedikit pun menggadaikan akurasi demi clickbait.
Mari kita jadikan pena kita sekuat tekad seorang atlet di garis finish. Jika persnya sehat, maka informasinya kuat.
Jika informasinya kuat, maka rakyatnya cerdas. Dan jika rakyatnya cerdas, maka Kaltim Berdaulat bukan lagi sekadar slogan, melainkan kenyataan yang kita nikmati bersama.
Selamat Hari Pers Nasional!(*)
*Penulis adalah wartawan senior di Kaltim, Ketua KONI Kaltim
![]()












