DPRD Kutai Timur

Pendidikan Berkarakter, Anak Perlu Kemampuan Beradaptasi

SANGATTA, KASAKKUSUK.com – Sejak 2013, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) telah mendiversifikasi kurikulum PAUD. Kurikulum ini tidak elastis dan hanya berganti setiap 8-10 tahun sekali.

Namun, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang pesat menuntut anak-anak untuk memiliki kemampuan beradaptasi. Diversifikasi kurikulum menjadi penting untuk mengikuti kemajuan teknologi.

Wakil Ketua Komisi A (Bidang Pemerintahan) DPRD Kabupaten Kutai Timur, Hepnie Armansyah menekankan diversifikasi kurikulum sangat penting. Namun ia juga menekankan pentingnya memaksimalkan hubungan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam mendukung pendidikan karakter anak.

“Meningkatkan kualitas guru juga sangat penting karena PAUD yang berkualitas sangat ditentukan oleh kualitas gurunya. Jika gurunya berkualitas, Insya Allah PAUD-nya juga akan berkualitas. Persoalan pendidikan karakter tidak bisa hanya ditangani di sekolah,” ujar Hepnie Armansyah.

Anak usia PAUD hanya berada di sekolah selama 4-5 jam, sementara mereka berada di rumah sekitar 20 hingga 21 jam. Jika pendidikan karakter di sekolah tidak didukung oleh lingkungan rumah, maka pendidikan tersebut tidak akan efektif.

“Contohnya, jika sekolah mengajarkan bahwa merokok itu merugikan kesehatan, tetapi di rumah orang tua merokok, anak akan bingung tentang mana yang benar,” jelas Hepnie Armansyah.

Untuk mengefektifkan pendidikan karakter, diperlukan pengajaran yang berkesinambungan di rumah, sekolah, dan masyarakat. Hepnie Armansyah juga menambahkan bahwa memastikan kebutuhan esensial anak terpenuhi adalah hal yang sangat penting.

“Kita semua tahu bahwa anak yang memiliki tumbuh kembang yang baik adalah anak yang kebutuhan esensialnya terpenuhi,” imbuhnya.

Hepnie Armansyah menyoroti lima kebutuhan esensial bagi anak: gizi, kesehatan, pendidikan, perlindungan, dan pengasuhan. Anak yang bergizi baik akan memiliki modal tumbuh kembang yang optimal.

“Misalnya, anak yang bertubuh tinggi harus memiliki berat badan yang seimbang dengan usianya. Jika tidak, anak tersebut berisiko mengalami stunting, yang sangat merugikan anak, keluarga, masyarakat, dan negara. Anak yang stunting akan kehilangan potensi pendapatan sekitar 20 persen ketika dewasa,” papar Hepnie Armansyah.

“Kesehatan anak juga merupakan modal dasar untuk tumbuh kembang yang baik. Anak yang tidak sehat akan menjadi beban bagi orang tua dan negara. Anak yang tidak sehat di usia balita berisiko menderita penyakit berat di usia dewasa. Karena itu, anak yang sehat adalah modal pembangunan,” ucap Hipnie. (qi/adv-dprd)

Loading

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

error: